Opini
Catatan Seorang Jurnalis: Mencari Bung Karno di Tikala Baru Manado
Di balik rumah itu, tersembunyi jejak Bung Karno, sang proklamator yang dijuluki Penyambung Lidah Rakyat.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Dewangga Ardhiananta
Ringkasan Berita:
- Tersembunyi jejak Bung Karno di Tikala Baru Manado
- Saya pergi ke rumah itu untuk menulis kenangan tentang Presiden pertama RI tersebut di Manado
- Anak muda Manado perlu tahu bahwa Indonesia pernah punya seseorang yang besar, agung, disegani dunia, dan ternyata pernah menumpang di sebuah rumah kala berkunjung ke Manado
TRIBUNMANADO.CO.ID - Di balik rimbunnya pepohonan di salah satu sudut Jalan Daan Mogot, Kelurahan Tikala Baru, Kecamatan Tikala, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), terdapat sebuah rumah kuno.
Di balik rumah itu, tersembunyi jejak Bung Karno, sang proklamator yang dijuluki Penyambung Lidah Rakyat.
Sudah jadi semacam "ritual" bagi saya Arthur Rompis, seorang wartawan, untuk mengunjungi rumah itu tiap bulan Juni.
Juni adalah Bulan Bung Karno.
Saya pergi ke rumah itu untuk menulis kenangan tentang Presiden pertama RI tersebut di Manado.
Sudah tugas saya sebagai jurnalis untuk menyusun fakta yang berceceran di rumah itu, menjadikannya utuh, lantas menuliskan kisahnya.
Ini adalah tugas sejarah.
Anak muda Manado perlu tahu bahwa Indonesia pernah punya seseorang yang besar, agung, disegani dunia, dan ternyata pernah menumpang di sebuah rumah kala berkunjung ke Manado.
Rumah itu terlupakan.
Saya ingat, awalnya diberitahu oleh seorang pria tua mengenai rumah tersebut.
Pria tua itu mengaku seorang marhaenis, dan mungkin sudah ditakdirkan kami bertemu begitu saja dan berbincang di sebuah rumah kopi.
"Coba kau lacak rumah yang ditumpangi Bung Karno di Tikala Baru," kata dia saat itu.
Melacaknya ternyata tak mudah.
Saya memerlukan waktu sampai tiga hari, bertanya-tanya hingga ke belasan orang.
Setelah berhasil ditemukan, muncul masalah lain.
Ternyata rumah itu sudah tidak ditempati, dan pemiliknya yang tinggal di rumah sebelah bangunan itu cukup sulit ditemui.
Keberuntungan datang di saat saya hampir menyerah.
Seorang ibu menyambut kedatangan saya di rumah itu pada suatu siang di bulan Agustus.
Dialah Elma Mozes.
Elma tengah membersihkan pekarangan rumah saat saya datang.
Ia tinggal di bangunan samping rumah kuno tersebut.
Corneles Mozes, ayah Elma, rupanya adalah teman baik Bung Karno.
Setiap melawat ke Manado, Bung Karno tak pernah lupa menyambangi sahabatnya itu.
Beliau bahkan menginap di sana.
Arsitektur rumah itu menyerupai gaya Belanda.
Bersusun tiga, dengan bagian paling atas berbentuk mirip menara.
Dituntun oleh Elma, saya memasuki bagian tengah rumah.
Berada di balkonnya memunculkan sensasi seperti berdiri di atas dek kapal, lengkap dengan pegangan besi yang menjadi pagar pembatas.
Ruangan itu memiliki ruang tamu, dua kamar, serta dapur.
Pada dinding ruang tamu, bertebaran foto-foto Corneles.
Soekarno sendiri tidur di salah satu kamar tersebut.
"Kamar itu kini isinya hanya barang-barang biasa," kata Elma.
Menurutnya, rumah dan seluruh bagiannya belum pernah dipugar sejak dibangun pada tahun 1950.
Saya mencoba mengetuk kayunya.
Kayu tersebut terasa sangat kuat.
"Paku pun mental," ujar Elma menegaskan kualitasnya.
Elma bercerita bahwa sang ayah adalah pengusaha galangan kapal satu-satunya di Sulut pada tahun 50-an.
Karena itulah rumah tersebut sengaja dibangun menyerupai model kapal.
Semua tamu penting yang datang ke Sulut pasti melewati pintu ayahnya.
"Mereka diantar ayah dengan kapal untuk memancing dan agenda lainnya.
Menginapnya ya di sini," kenang Elma.
Salah satu tamu agung itu adalah Soekarno.
Waktu kecil, Elma kerap mendengar cerita ayahnya tentang sosok sang proklamator.
"Ayah sangat bangga bercerita pernah menjamu Soekarno di rumah itu," katanya.
"Banyak sekali yang kemari," tuturnya.
Elma sebenarnya kerap berencana untuk menata kembali rumah bersejarah itu, namun niat tersebut belum pernah terwujud.
"Saya sudah tua, jadi lelah," keluhnya.
Kini banyak pengagum Bung Karno mendatangi rumah itu.
Bahkan ada yang menjadikannya sebagai tempat foto wedding.
Setiap kali melangkah keluar dari rumah itu, jujur, saya merasa patriotik.
Mungkin, setelah bosan melihat kondisi bangsa ini yang sedang tidak baik-baik saja, saya perlu sering-sering kembali ke sana.
Mungkin, dan semoga saja, Merah Putih akan bertahta kuat lagi di dada ini setelah melihat salib merah dibentangkan di Papua.
Karena hingga kini, sebagai seorang Calvinis, saya selalu menganggap Sukarno adalah anugerah umum, pemberian Tuhan yang paling indah untuk Indonesia.
(TribunManado.co.id/Art)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tersembunyi-jejak-Bung-Karno-sang-proklamator-yang-dijuluki-Penyambung-Lidah-Rakyat.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.