Hardiknas 2026
Refleksi Hardiknas: Ke Mana Arah Pendidikan Kita?
Setiap tanggal 2 Mei, di berbagai tempat, terutama dunia pendidikan rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Ringkasan Berita:
- Setiap tanggal 2 Mei, di berbagai tempat, terutama dunia pendidikan rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
- Negara mengakomodir peringatan ini dengan pelaksanaan upacara.
- Ada jasa seorang tokoh Ki Hadjar Dewantara yang dikenang dengan semboyan legendarisnya, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I.
(Pengawas PAI Kementerian Agama Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulawesi Utara)
Setiap tanggal 2 Mei, di berbagai tempat, terutama dunia pendidikan rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
Negara mengakomodir peringatan ini dengan pelaksanaan upacara.
Ada jasa seorang tokoh Ki Hadjar Dewantara yang dikenang dengan semboyan legendarisnya, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Namun, di luar seremoni upacara dan baju adat yang dikenakan, muncul sebuah pertanyaan besar di benak kita: Apa sesungguhnya tujuan yang ingin kita capai melalui pendidikan?
Apakah institusi pendidikan kita saat ini lebih berfungsi sebagai sekadar "lembaga pengajaran" ataukah telah menjelma menjadi "lembaga pendidikan" yang sesungguhnya? Ke mana sebenarnya arah pendidikan kita saat ini? Sungguh tidak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Karenanya cukuplah untuk menjadi sebuah refleksi bagi para pemangku kebijakan dan mereka yang berada di garda terdepan pendidikan negeri ini.
Sejatinya pendidikan bukan sekadar "Ganti Kurikulum". Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, kita disibukkan dengan transformasi besar-besaran melalui Kurikulum Merdeka.
Secara regulasi, hal ini tertuang dalam Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 yang menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional.
Arahnya jelas: ingin membuat pendidikan lebih fleksibel dan berfokus pada karakter siswa.
Namun, kita harus jujur, apakah kemerdekaan belajar ini sudah benar-benar sampai ke ruang-ruang kelas di pelosok negeri ini, termasuk Sulawesi Utara? Ataukah kita masih terjebak pada urusan administratif yang membuat guru lebih sibuk dengan aplikasi daripada menyapa hati para muridnya? Kembali menjadi sebuah pertanyaan reflektif untuk kita yang bergerak dalam dunia pendidikan.
Sebagai bagian dari dunia pendidikan di negeri ini, saya melihat sebuah tantangan besar.
Di tengah modernisasi dan digitalisasi, pendidikan kita jangan sampai kehilangan "ruh"-nya, yaitu akhlak.
Jika kita ditelusuri UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, maka akan ditemukan bahwa tujuan pendidikan nasional itu sangat jelas yaitu membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Artinya, arah pendidikan kita tidak boleh hanya mencetak "robot cerdas" yang jago dan menguasai teknologi tapi miskin empati.
Arah pendidikan kita setidaknya harus mengarah pada pembentukan manusia yang moderat -yang pintar secara intelektual, namun tetap rendah hati dan menghargai keberagaman yang ada di sekitar kita-. Pun demikian sikap moderasinya dalam beragama. Memahami nilai-nilai keseimbangan, kerjasama, dan toleransi untuk diaplikasikan dalam kehidupannya.
Pendidikan yang belum menyentuh pembinaan sikap hidup yang baik dan tepat bisa dikatakan sebagai pendidikan yang belum selesai, bahkan lebih jauh sebagai pendidikan yang kehilangan ruhnya, yang hanya sekadar pengajaran tanpa esensi mendidik yang sesungguhnya.
Sungguh sebuah amanah yang sangat berat untuk mereka yang bergelut dalam dunia pendidikan.
Arah pendidikan kita sungguh sangat bergantung pada siapa yang memegang kemudi di kelas.
Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu, karena Google bisa menjawab apapun yang ditanyakan.
Karenanya, peran guru harus bergeser menjadi fasilitator, inspirator, dan teladan. Guru adalah kapten di tengah arus perubahan zaman yang dahsyat.
Bagi kita di Sulawesi Utara, ada modal sosial luar biasa yang dimiliki yaitu semangat Torang Samua Basudara.
Arah pendidikan kita ke depan diharapkan harus mampu merawat semangat ini.
Pendidikan hendaklah menjadi alat pemersatu, dan bukan menjadi pemecah belah.
Kita ingin lulusan sekolah kita nantinya adalah orang-orang yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat dan lingkungannya, bukan hanya sekadar pencari kerja yang memegang ijazah.
Refleksi Hardiknas tahun ini adalah momentum untuk kembali ke fitrah pendidikan.
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Arahnya bukan sekadar mengejar skor internasional seperti PISA, tapi memastikan setiap anak didik kita merasa aman, nyaman, dan berharga di sekolahnya.
Setidaknya kita bisa pastikan bahwa "Merdeka Belajar" itu bukan hanya sebagai slogan di spanduk, tapi benar-benar menjadi nafas di setiap sudut sekolah.
Mari kita didik anak-anak kita dengan hati, agar kelak mereka mampu mengubah dunia dengan pekertinya yang luhur sebagai warisan dari generasi kita saat ini.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Maju terus pendidikan Indonesia, khususnya di bumi Nyiur Melambai!
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
| Buntut Sidak Mentan di Bengkol Manado, Sejumlah Oknum Pegawai Kementerian di Sulut Terancam Sanksi |
|
|---|
| Sisi Lain Sidak Menteri Pertanian di Manado: Semprot Pengelola hingga Dihadiahi Lagu Happy Birthday |
|
|---|
| Temuan Menteri Pertanian Saat Sidak Kebun Bibit Kelapa di Manado, Minta Polisi dan Jaksa Periksa |
|
|---|
| Petani Kelapa di Manado Mulai Panik, Harga Kopra Terus Turun |
|
|---|
| Breaking News: Menteri Pertanian Amran Sulaiman Kunjungi Manado, Tinjau Benih Kelapa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/SOSOK-Supriadi-SAg-MPdI-Supriadi-adalah-Pengawas-PAI-Kemenag-Kota-Manadolo9.jpg)