Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Uji Netanyahu
Di sebuah sudut rumah kopi yang pengap oleh asap dan aroma robusta, saya duduk berhadapan dengan seorang teman.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Selasa yang basah di Manado (24/3/2026).
- Di sebuah sudut rumah kopi yang pengap oleh asap dan aroma robusta, saya duduk berhadapan dengan seorang teman.
- Awalnya, kami hanya bicara tentang hal-hal remeh.
Selasa yang basah di Manado (24/3/2026).
Di sebuah sudut rumah kopi yang pengap oleh asap dan aroma robusta, saya duduk berhadapan dengan seorang teman.
Awalnya, kami hanya bicara tentang hal-hal remeh.
Tentang hidup yang begini-begini saja.
Namun, ketenangan itu mendadak robek ketika ia menyodorkan sebuah pertanyaan yang "agak lain."
Ia membawa sosok Benyamin Netanyahu ke atas meja, tepat di samping cangkir kopi kami yang mulai mendingin.
Ia menanyakan pendapat saya mengenai ucapan Perdana Menteri Israel itu tentang Yesus yang viral lantas memicu pro kontra.
"Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi,".
Meski sebal, saya harus menjawabnya.
Agar fair, saya menjawab sesuai dengan pendapat masyarakat, baik yang membela maupun mengutuk Netanyahu.
Saya mengawali dengan yang pro.
Netanyahu disebut mengutip buku "The Lessons of History" karya sejarawan ternama Will Durant.
Netanyahu, kata mereka, bukan bicara tentang teologi, tapi filosofi sejarah. Ia tidak sedang merendahkan Yesus.
Malah Netanyahu secara tersirat mengakui bahwa Yesus merupakan sosok yang paling baik, sedang Khan adalah evil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/BENJAMIN-NETANYAHU-Foto-diambil-dari-Facebook-PM-Israel-pada-Rabu-1382025.jpg)