Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Sabang Menentukan Lebaran: Ikhtiar Rukyat di Tengah Perkembangan Sains

Apapun hasil sidang isbat nanti, semangat itulah yang seharusnya tetap dijaga oleh seluruh umat.

Kolase
OPINI - Tulisan opini oleh M. S. Tahir, Dosen/Kepala Perpustakaan IAIN Manado dan Pengurus MUI Sulut.  Berjudul : Sabang Menentukan Lebaran: Ikhtiar Rukyat di Tengah Perkembangan Sains.  

Ringkasan Berita:
  • Ikhtiar Rukyat di Tengah Perkembangan Sains.
  • Oleh Dosen/Kepala Perpustakaan IAIN Manado dan Pengurus MUI Sulut, M. S. Tahir.
  • Pertanyaan yang paling sering muncul sederhana, namun penting: Lebaran jatuh tanggal berapa?
 

Oleh: 
M. S. Tahir
Dosen/Kepala Perpustakaan IAIN Manado dan Pengurus MUI Sulut

PENENTUAN Idul Fitri setiap tahun selalu menjadi perhatian umat Islam di Indonesia. 

Menjelang akhir Ramadan, pertanyaan yang paling sering muncul sederhana, namun penting: Lebaran jatuh tanggal berapa?

Tahun ini, perhatian kembali tertuju ke Kota Sabang. Letaknya yang berada di ujung barat Indonesia membuat daerah ini sering disebut memiliki peluang lebih besar dalam melihat hilal, terutama dalam kondisi astronomi yang tergolong kritis.

Namun, penting untuk dipahami bahwa Sabang bukan satu-satunya penentu.

Secara astronomi, wilayah barat Indonesia memang memiliki keunggulan. Matahari terbenam lebih lambat, sehingga hilal memiliki waktu lebih panjang untuk diamati. 

Dalam situasi tertentu, seperti menjelang 1 Syawal tahun ini, selisih kecil ketinggian hilal dapat menjadi faktor yang sangat menentukan terlihat atau tidaknya bulan sabit tersebut.

Meski demikian, praktik rukyat di Indonesia tidak dilakukan hanya di satu titik. Pengamatan hilal dilaksanakan di berbagai lokasi di seluruh wilayah Indonesia. 

Hasilnya kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama RI.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, rukyat bukan sekadar aktivitas melihat hilal secara langsung, tetapi merupakan bagian dari metode penentuan awal bulan Hijriah yang terintegrasi dengan hisab. 

Hisab digunakan untuk menghitung posisi hilal secara astronomis, sementara rukyat berfungsi sebagai konfirmasi di lapangan.

Dengan demikian, keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Di sisi lain, metode hisab juga digunakan secara mandiri oleh organisasi seperti Muhammadiyah, yang menetapkan awal bulan berdasarkan perhitungan tanpa menunggu hasil rukyat. 

Perbedaan ini merupakan hal yang sudah lama terjadi dan menjadi bagian dari dinamika keislaman di Indonesia.

Bagi masyarakat, yang terpenting adalah menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved