Catatan Seorang Jurnalis
Bukan Valentine, Tapi Hari Merah Putih
14 Februari 1946 dini hari. Para pemuda Manado menyerbu tangsi Belanda di Teling Manado. Dalam tempo singkat, tangsi berhasil dikuasai.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
TRIBUNMANADO.CO.ID - 14 Februari 1946 dini hari. Para pemuda Manado menyerbu tangsi Belanda di Teling Manado, Sulawesi Utara.
Dalam tempo singkat, tangsi tersebut berhasil dikuasai.
Para petinggi tentara Belanda ditawan. Sejumlah pejuang yang ditahan dibebaskan.
Aksi sudah berjalan mulus. Sesuai rencana.
Tapi para pemuda ini merasa masih ada yang kurang.
Ternyata bendera merah putih biru masih berkibar di halaman tangsi.
Aksi heroik lantas dilakukan para pemuda.
Bagian bendera yang berwarna biru dirobek. Jadilah merah putih. Berkibarnya sang saka merah putih menandai penaklukan total.
Apa yang terjadi di Manado itu ternyata tidak jadi peristiwa lokal semata.
Disiarkan oleh radio BBC, peristiwa Merah Putih mendunia. Atau istilah kerennya saat ini viral.
Pride Belanda runtuh gara - gara peristiwa itu.
Klaim mereka bahwa Indonesia telah habis terbantahkan.
Yang bikin sakit hati sekaligus sakit gigi bagi para Mener ini adalah yang melawan adalah bangsa Minahasa.
Bangsa yang selama ini dianggap "anak emas", bahkan sempat hampir jadi provinsi ke 12 Belanda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/PEJUANG-RI-Bernard-Wilhelm-BW-Lapian-Pemimpin-sipil-residen-Manado-89.jpg)