Kamis, 16 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Literasi Artificial Intelligence atau AI dan Ancaman Nyata Kesadaran Manusia

Hari ini dunia mengalami euforia mendalam dengan hadirnya Aritificial Intelligence (kecerdasan buatan) dalam ruang privat dan publik manusia

Editor: David_Kusuma
Dok Pribadi
Adi Tucunan (Dosen Pengajar FKM Unsrat) 

Oleh : Adi Tucunan (Dosen FKM Unsrat)

HARI ini dunia mengalami euforia mendalam dengan hadirnya Aritificial Intelligence (kecerdasan buatan) dalam ruang privat dan publik manusia seantero jagad hari ini. Hampir di  semua sektor Industri, pemerintahan, pendidikan dan sektor strategis lain yang terkena dampak dari hadirnya AI bagi kehidupan umat manusia. Tidak ada peradaban yang jauh lebih cepat berubah dalam sejarah umat manusia dibanding peradaban digital kita hari ini.

Bahkan ada manusia yang paling kaya di dunia selalu mengandalkan dan menjadi pencipta kecerdasan buatan ini. Warisan kecerdasan buatan ini akan mengubah hampir semua bentuk pekerjaan manusia dan yang paling menakutkan mengubah perilaku manusia itu sendiri. Dan dalam banyak kasus kita mulai melihat ada kompetisi yang terlampau cepat antara manusia dan AI dan jika manusia tidak siap mengendalikan ini semua, maka manusia itu sendiri yang akan dikalahkan oleh produk yang dia ciptakan sendiri.

Pertanyaan besarnya, apakah AI bisa berpikir dan lebih cerdas dari manusia penciptanya? Kekhawatiran banyak ilmuwan dan pakar tentang kehadiran AI benar-benar mencengangkan, bahkan oleh orang seperti Elon Musk dan Bill Gates sebagai penguasa teknologi global menyuarakan keprihatinan yang sama, bahwa AI perlu dikendalikan dan jangan semasif hari ini, karena AI tidak dibuat untuk dikontrol oleh manusia.

Menurut Profesor Nuval Yoah Harari bahwa manusia tidak dipersiapkan untuk menerima AI dengan semua konsekuensinya yang merugikan. Kemungkinan terbesar AI akan mengendalikan manusia itu sendiri dan ini menjadi kekhawatiran besar jika manusia tidak bisa berdampingan secara egaliter dengan AI atau menundukkan AI berada dibawah kontrolnya, ini akan menjadi sebuah katastrofik bukan lagi membantu manusia sendiri. Tapi semua perilaku manusia, apapun yang diinginkan sesuai kontrol dari AI dan itu terlihat dengan algoritma yang keluar dari AI bisa mengendalikan perilaku manusia itu sendiri.

Saya tidak mencoba menguraikan secara teknis teoritis fungsi AI dan teori pikiran manusia karena bukan keahlian saya di tingkatan itu, tapi secara umum mencoba untuk berusaha mempertanyakan kekhawatiran kaum awam seperti saya seberapa membahayakannya sesuatu yang seharusnya menjadi berguna tapi jika tidak dipandu dengan kebijaksanaan yang cukup dari sisi perdebatan etika dan moral akan menjadi chaos bagi umat manusia itu sendiri.

Manusia dalam perjalanan menemukan sesuatu untuk dipergunakan bagi kebaikan umat manusia, memang tidak harus mendapat tantangan secara teknis, tapi jika itu akan mengarah pada upaya mengubah struktur alamiah manusia sebagai pemilik kesadaran tertinggi yang diciptakan Sang Pencipta, maka kita harus mendebat dan mempertanyakan kehadirannya, apakah benar produk manusia yang bernama AI itu bisa mengubah trajektoris peradaban manusia itu sendiri? Dalam tulisannya berjudul Artificial Intelligence, human cognition and conscious supremacy, Ken Mogi dari Universitas Tokyo Jepang menyebutkan bahwa ada kemungkinan mesin komputasi secara unik dikendalikan oleh proses sadar dan ada persamaan antara kesadaran manusia dan komputasi kuantum dan bebas mempertanyakan apakah kesadaran benar-benar melibatkan  proses kuantum dalam otak.  

Masalah AI yang muncul pada perilaku manusia

AI seperti ChatGPT dalam temuan beberapa ilmuwan Cina seperti Ji dan kawan-kawan pada tahun 2023, menciptakan salah satu masalah yaitu terjadinya halusinasi dan cenderung memproduksi kalimat yang tidak konsisten dengan fakta yang diperoleh, sebuah terminologi yang dikritik oleh para peneliti sebagai contoh dari antropomorfisme yaitu suatu pemberian sifat, perilaku, emosi atau karakter pada manusia.

Artinya, AI mencoba membelokkan kesadaran dan fakta utama dari suatu peristiwa dalam manusia itu sendiri karena dia melekatkan makna terhadap sesuatu. Kemungkinan besar karena algoritma yang di-input ke dalamnya menciptakan bangunan kesadaran berbeda dari kenyataan sesungguhnya.

Dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, Prof. Yuval Harari menjelaskan bahwa AI akan lebih bisa mengenal kesadaran manusia dibandingkan manusia itu sendiri, bagaimana setiap keputusan dan preferensi yang dibuat manusia akan ditiru habis-habisan oleh AI dan ini kemudian akan mengendalikan semua keputusan yang manusia itu buat, artinya manusia akan semakin tergantung pada apa yang AI lakukan karena kesadaran itu sudah diimitasi oleh AI. Jika ini terjadi, maka manusia tidak akan lagi meenggunakan kesadarannya sendiri untuk bebas membuat keputusan penting dan berharga bagi masa depannya.

Bahkan semua keputusan politik dalam negara, sistem pemerintahan, ekonomi, budaya manusia hari ini, kesehatan dan semua aspek penting manusia yang sebelumnya era AI didesain oleh manusia sendiri, kini tidak lagi diputuskan oleh kesadaran manusia tapi AI sudah mengontrol kita sedemikian rupa. Dalam hal ini, kita tidak cukup memahami netralitas yang dibawa oleh AI dalam keuntungan secara industrial dan pekerjaan sehari-hari umat manusia yang difasilitasi dan diakomodir tapi ada hal yang jauh lebih besar yaitu dia mengambil semua kesadaran kita suatu waktu untuk menciptakan kendali utama dalam kehidupan dan perilaku manusia.

Betapa menakutkannya ini, bahkan dengan panduan algoritma yang diciptakannya kita akan mengalami dehumanisasi yang terlalu tajam dan perlu kita pikirkan apakah fase dalam sejarah manusia akan berbelok tajam mengikuti arahannya sehingga manusia akan mengalami reduksi dalam perannya di panggung sejarah dunia.

Dampak kognitif

Kecerdasan buatan cenderung menghalangi pandangan berbeda dalam sudut pandang manusia itu sendiri. Kita tahu bersama bahwa setiap manusia memiliki cara berpikir yang berbeda satu sama lain, tapi tidak halnya dengan AI dia akan memberikan satu pola yang sama, itu sebabnya setiap jawaban yang diberikan modelnya akan mirip. Pada akhirnya, manusia menyukai hal yang sama, tidak diberikan pilihan pada sudut pandang lain karena mereka terpesona dengan tutur bahasa baku yang sudah dikemas sesuai permintaan pengguna.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved