Opini
Saya Sering Melakukan Yang 'Tidak Mulia,' Tapi Dipanggil Yang 'Mulia'
Di Indonesia, dalam penerapan hukum, hakim memiliki kemerdekaan (independensi) dan imparsialitas, termasuk obyektivitas hakim dalam memutus perkara
"Tapi sekarang saya lelah dan menyesal mengajarkan dan mengingatkan mereka agar nanti di kemudian hari, jika jadi hakim, jaksa, penyidik polri mereka menjadi orang baik, 'bijak', dan 'memiliki rasa keadilan dan kepatutan', tapi kenyataannya berbeda."
"Capek saya mengajar bertahun-tahun tentang integritas, keadilan", begitu mereka menjadi penegak hukum, apa yang pernah saya ajarkan terlupakan.
Sejenak mereka berdua membisu, tiba-tiba si putih berkata, "Hai temanku, apa kepanjangan dari SH?" Langsung dijawab, "Sarjana Hukum". Salah, kata si putih, yang benar "Sudah Hitam"
Kemudian si hitam balik bertanya, "Apa kepanjangan dari MH?" Dengan tenang, si putih menjawab, "Makin Hitam".
Mereka berdua akhirnya tertawa sambil menangis dan mencoba menengok ke belakang, betapa mahalnya harga sebuah integritas dan jati diri.
Saat akan berpisah, si hitam berbisik, "Menner (panggilan bagi dosen), kalau mau jujur, saya cemburu pada pekerjaanmu." "Kenapa?" tanya si dosen, "kan enak kamu dipanggil yang mulia?"
Nah, panggilan itu yang jadi beban. "Saya sering melakukan yang tidak mulia, tapi dipanggil yang mulia," kata si hitam malu. ("True Story" by Dr. Michael Barama, SH, MH (late) Senior Lecturer in Criminal Law at Sam Ratulangi University.)
Nukilan Soekarno:
“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Soekarno yakin segelintir pemuda yang berani, berkualitas, dan bersatu dapat menciptakan perubahan besar.
HARI INI, nukilan Soekarno bergema kembali dalam konteks keadilan hukum:
"Berikan seribu polisi jujur, sepuluh jaksa yang baik, dan tiga hakim bijaksana. Maka akan terjadi "metanoia" (pertobatan) dari sistem paling buruk di negeri ini, menjadi baik dan akan tercipta iklim keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia."
Selamat hari Natal 25 Desember 2025 & Tahun Baru 01 Januari 2026
"Jayalah negeriku, bangkitlah bangsaku."
| Bahasa yang Ditinggalkan: Ketika Sastra Tak Lagi Menjadi Rumah Berpikir di Sekolah |
|
|---|
| Otokritik atas Turunnya Posisi Manado dalam Indeks Kota Toleran |
|
|---|
| Hari Kartini dan Tantangan Demokrasi di Bumi Nyiur Melambai |
|
|---|
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Efraim-Lengkong-dan-Michael-Barama.jpg)