Senin, 1 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Laporan dari Australia

Murid SD di Australia Dilarang Main Medsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku dan HP Jadul

Terjadi fenomena pada remaja dan mahasiswa meninggalkan ketagihan menggunakan telepon seluler smartphone, serta media sosial. 

Tayang:
Penulis: Domu D Ambaria | Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado/Domu Ambarita
KUNJUNGAN - Sejumlah wartawan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program kunjungi Bertram Primary School. Kunjungan ini difasilitasi Kedubes Australia untuk Indonesia di Jakarta 

Ringkasan Berita:
  • Telah terjadi fenomena pada remaja dan mahasiswa meninggalkan ketagihan menggunakan telepon seluler smartphone, serta media sosial. 
  • Bila sebelumnya, kerap menjumpai orang-orang sibuk memelototi layar ponsel, atau jari-jemari memainkan layar sambil sambil berjalan di kaki-lima maupun kampus, saat ini, gejala tersebut mulai hilang.
  • Mahasiswa di kampus, atau di tempat tongkrongan, lebih gemar tanpa membawa smartphone.

 

MURID-murid sekolah dasar di Australia mengaku belum tahu bermedia sosial. Dan belum pernah.

Mereka sadar, Undang-undang membatasi usia memiliki akun medsos, minimum 16 tahun.

Sementara di kalangan mahasiswa, muncul kesadaran baru menjaga kesehatan mental dengan mencegah kecanduan smartphone, beralih ke telepon zaman dulu, ponsel jadul/dumbphone, dan gemar membaca buku berbahan kertas.

***

PAGI itu, langit cerah. Cuaca dingin, 12 derajat Celsius.

Sekira pukul 09.00 waktu Perth, sama dengan Waktu Indonesia Tengah (Wita), sejumlah wartawan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program, menumpang minibus Mercedes-Benz

Kunjungan ini difasilitasi Kedubes Australia untuk Indonesia di Jakarta

Delegasi mendatangi Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri.

Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6.

Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat.

Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.

Di ruangan kelas belajar, terdapat 13 murid, gabungan kelas 3 sampai kelas 6.

Warna kulit mereka beragam, ada putih ala ras Eropa, ada juga agak legam khas India, juga sawo matang.

Nuansa Indonesia terasa kental di ruangan. Awakan (badan wayang) khas Jawa tergeletak di meja. Miniatur becak di meja lain.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved