Senin, 1 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Laporan dari Australia

Murid SD di Australia Dilarang Main Medsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku dan HP Jadul

Terjadi fenomena pada remaja dan mahasiswa meninggalkan ketagihan menggunakan telepon seluler smartphone, serta media sosial. 

Tayang:
Penulis: Domu D Ambaria | Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado/Domu Ambarita
KUNJUNGAN - Sejumlah wartawan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program kunjungi Bertram Primary School. Kunjungan ini difasilitasi Kedubes Australia untuk Indonesia di Jakarta 

Dr Nasya Bahfen, dosen Departmen of Politics Media and Philosophy, La Trobe University, Melbourne, Victoria, Autralia, mengatakan telah terjadi fenomena pada remaja dan mahasiswa meninggalkan ketagihan menggunakan telepon seluler smartphone, serta media sosial. 

Bila sebelumnya, kerap menjumpai orang-orang sibuk memelototi layar ponsel, atau jari-jemari memainkan layar sambil sambil berjalan di kaki-lima maupun kampus, saat ini, gejala tersebut mulai hilang.

Mahasiswa di kampus, atau di tempat tongkrongan, lebih gemar tanpa membawa smartphone.

Mereka pun mengganti kesibuk bermain ponsel, dengan membaca buku Pelajaran maupun novel yang kemudian membentuk prinsip-prinsip baru.

“Mahasiswa saya, sekarang lebih senang membaca buku, daripada memegang ponsel.

Bahkan, ada semacam prinsip bagi anak muda, mencari pacar yang kutu buku, daripada yang ketagihan ponsel,” kata Bahfen, perempuan kelahiran Singapura, dan masa kecil pernah tinggal di Jakarta. Dia sudah berpuluh tahun tinggal di Australia.

Gejala BookTok saat Covid

Menurut Bahfen, perempuan berhijab ini, dalam lima tahun ke belakang, ada gerakan, remaja sekarang meninggalkan smartphone, beralih kepada dumbphone atau telepon zaman dulu.

Ponsel jadul, yang tidak terhubung ke internet dan dalam jaringan (online).

Ponsel yang dapat digunakan menelepon dan atau mengirim pesan singkat (SMS), juga tidak terdapat layanan whatsap. Tidak dapat videocall.

Kini, fenomena sosiologis dan psikologis, ada kesadaran dan kekhawatiran akan dampak kecanduan ponsel mengakibatkan kelelahan kognitif, kecemasan, gangguan kesehatan mental, dan hilangnya batas antara kehidupan personal dan profesional.

Muncullah kontra-tren gerakan minimalis digital di kalangan generasi muda, Genenerai Z dan Milenial, sebagai respons terhadap kejenuhan akut akibat disrupsi smartphone.

Dulu, dunia memuji smartphone karena multitasking dan mampu menyatukan (konvergensi) belasan fungsi alat tunggal seperti jam, alarm, kamera, pemutar musik. Kini, arus balik, anak muda memisahkan fungsi-fungsi tersebut (divergensi) lewat teknologi satu fungsi.

Bahfen mengakui, memiliki riset tentang perilaku remaja yang semakin gemar membaca buku. “Mereka disebut masuk dalam era Booktok, sejak pandemic Covid-19, lima tahun lalu,” ujar Bahfen. 

Toko Buku Kembali Laris

Fenomena BookTok muncul di Australia, merujuk pada komunitas pencinta buku di dalam platform medsos TikTok yang membagikan ulasan, rekomendasi, hingga reaksi emosional saat membaca.

Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda.

Pemicunya adalah adanya kebijakan pembatasan wilayah yang ketat berupa isolasi (lockdown) di berbagai negara bagian, terutama Melbourne dan Sydney. Pembatasan relasi memaksa remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu di rumah.

TikTok menjadi pelarian utama, mempertemukan para pembaca lokal yang merasa kesepian.

Awal 2021, para penjual buku eceran di Australia mulai menyadari adanya pola ganjil: buku-buku lama yang sudah terbit bertahun-tahun lalu tiba-tiba habis dipesan dalam semalam karena direkomendasikan oleh pembuat konten (BookTokers) luar negeri maupun lokal Australia.

Mengutip Sydney Herald Morning, penerbit pun bersiasat menghadapi fenomena BookTok, tersebut.

“BookTok adalah tentang tren,” kata penjual buku Dymocks, Josh Hortinela. Ia sepenuhnya sependapat dengan suara lokal, dan panduan referensi berjalan untuk cerita romantis dan kriminal yang sedang naik daun. 

“Anda dapat melihat tren muncul di BookTok, dan itu memengaruhi orang-orang yang bertanya tentangnya di toko. Dulu orang datang dan meminta rekomendasi untuk romansa paranormal, tetapi sekarang mereka meminta trope. Mereka akan berkata, saya mencari trope 'hanya satu tempat tidur', atau buku ‘musuh-menjadi-kekasih’. Itu pasti ada hubungannya dengan bagaimana buku dipasarkan di TikTok,” katanya.

Caitlin Toohey, eksekutif pemasaran di HarperCollins Australia, mengatakan penerbit “memperhatikan beberapa judul romantis yang lebih ringan yang mungkin belum banyak ditayangkan untuk sementara waktu, karena itulah yang diinginkan orang ... [TikTok] adalah tempat baru untuk menjangkau pembaca baru.”

Puncak fenomena BookTok di Australia tercapai pada rentang tahun 2022 hingga 2023. Pada periode ini, BookTok tidak lagi sekadar subkultur internet tersembunyi, melainkan telah mendikte pasar arus utama (mainstream).

Jaringan toko buku raksasa Australia seperti Dymocks, QBD Books, serta toko independen Readings, laris manis.

Mereka memampang meja pajangan khusus di bagian depan toko dengan papan penanda besar bertulis "As Seen on BookTok" atau "Trending on TikTok".

Buku It Ends with Us karangan Colleen Hoover bahkan sempat merajai daftar bestseller fiksi di Australia selama berbulan-bulan, mengalahkan buku-buku baru rilisan lokal.

Pada puncaknya, penerbit besar Australia mulai mengontrak influencer BookTok lokal sebagai pembicara di festival-festival literasi besar, seperti Melbourne Writers Festival, untuk menarik audiens Gen Z.

Dampak BookTok terhadap industri retail buku di Australia sangat masif dan membalikkan prediksi banyak analis yang awalnya mengira generasi muda akan meninggalkan buku fisik demi gawai.

Sebelum fenomena BookTok, jika ingin novel romantis, pembeli harus tahu ke mana mencarinya.

Beberapa toko kecil menyediakan novel romantis dalam bentuk paperback, begitu pula toko serba ada, seperti Big W.

Beberapa jaringan toko buku juga menyediakannya, tetapi novel romantis biasanya tidak menjadi pusat perhatian.

Tahun 2025, keadaan telah berubah. Dikutip theconversation.com dari Nielsen Bookscan, novel romantis tidak lagi terpinggirkan.

Manfaat BookTok dan Bookstagram, penjualan novel romantis tumbuh rata-rata 49 persen selama tiga tahun. Pembaca novel romantis Australia, menopang pasar buku nasional yang stagnan.

Toko buku besar kini memiliki rak khusus untuk novel romantis.

Acara penandatanganan buku romantis besar-besaran diadakan di pusat konvensi.

Pembaca novel romantis mengantre untuk pembukaan toko buku khusus novel romantis Romancing the Novel di Paddington, Sydney tahun lalu. (Domu D Ambarita)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Baca berita lainnya di: Google News

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved