Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cuaca Ekstrem di Manado

Khawatir Cuaca Ekstrem di Manado, Nelayan Karangria Pilih Tak Melaut

“Paling yang masih melaut hanya kapal-kapal besar di atas 30 GT. Perahu kecil tidak sanggup melawan ombak,”

Penulis: Isvara Savitri | Editor: Isvara Savitri
Tribun Manado/Isvara Savitri
PERAHU NELAYAN - Perahu nelayan di Pantai Karangria, Tuminting, Manado, Sulawesi Utara, Selasa (6/1/2026). Nelayan tak melaut hari ini. 

Ringkasan Berita:
  • Cuaca ekstrem terjadi di Manado, termasuk di laut.
  • Nelayan memilih tak melaut.
  • Ada yang alih profesi, ada yang bergantung pada usaha lain.

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Cuaca ekstrem yang melanda Kota Manado, Sulawesi Utara, berdampak langsung pada aktivitas para nelayan

Gelombang tinggi dan angin kencang membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.

Nelayan di Pesisir Karangria, Roy, menuturkan dirinya sudah berhenti melaut sejak kemarin. 

Bahkan, beberapa rekannya telah berdiam di rumah sejak dua hari lalu.

Hal itu karena kondisi ombak dinilai tidak memungkinkan. 

“Paling yang masih melaut hanya kapal-kapal besar di atas 30 GT. Perahu kecil tidak sanggup melawan ombak,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).

Sejumlah nelayan terpaksa mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup. 

Pemerintah kota Manado mengeluarkan imbauan 
kepada warga Manado untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama beberapa hari ke depan
Pemerintah kota Manado mengeluarkan imbauan kepada warga Manado untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama beberapa hari ke depan (Tribun Manado)

Ada yang menjadi tukang ojek, ada juga yang menjadi buruh bangunan.

Alih profesi tersebut dilakukan hingga cuaca kembali normal.

Hal serupa disampaikan nelayan lainnya, Jemi. 

Saat cuaca buruk hampir tidak ada nelayan yang berani turun ke laut. 

Mereka takut mengalami kecelakaan laut, seperti beberapa waktu lalu ketika ada nelayan hanyut dan baru ditemukan sebulan setelahnya. 

“Ada yang ditemukan di Papua, ajuga yang ditemukan di perbatasan Filipina. Risiko seperti itu terlalu besar,” katanya.

Bagi Jemi, keputusan tetap di rumah adalah pilihan terbaik karena masih ada keluarga yang menunggu. 

Baca juga: 1 Korban Kebakaran Pulang ke Rumah Keluarga, Bakal Kembali ke Panti Werdha Damai Manado

Baca juga: Korban Kebakaran Panti Werdha Damai di RSUD Manado Atasi Bosan dengan Jalan Ringan

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved