Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Petrus vs Yudas

Yesus adalah tokoh paling populer dalam sejarah manusia. Tak ada budaya manusia yang tidak tersentuh sosok ini.

|
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
META AI
PERJAMUAN: Ilustrasi The Last Supper oleh Meta AI, Minggu (30/3/2025). Film The Last Supper memotret kisah perjamuan terakhir dengan mendalam. Ini film dengan tipe pendalaman psikologis yang mencoba menggali motif di balik perbuatan seseorang. Mirip film Joker. 

The Last Supper diputar, bioskop penuh dan saya nyaris jadi korban. 

Tiba di salah satu bioskop di kota Manado lima belas menit sebelum jam tayang, saya disodori lima karcis terakhir. 

Anda yang hobi nonton di bioskop pasti tahu, tempat duduk untuk karcis penghabisan biasanya berada di paling bawah dan dekat layar. 

Ini tempat yang paling tidak nyaman untuk nonton bioskop. Tapi rupanya saya beruntung. 

Ada satu yang tempat duduknya agak sedikit ke atas. Di G 8.

Menuju ke sana harus melangkahi beberapa kaki, yang salah satunya tidak sengaja saya injak. 

Seorang ibu dengan wajah mengampuni, mungkin karena hendak menonton Tuhan.

Duduk di kursi itu, saya melihat kiri, kanan, depan, belakang.

Benar benar penuh manusia. Biasanya tak begitu. Film sebagus apapun tetap bioskop sulit penuh. 

Saya sendiri agak malas ke bioskop akhir-akhir ini.

Malas menonton film horor copy paste.

Atau film block buster ala cocok logi yang terus marak. 

Yesus adalah tokoh paling populer dalam sejarah manusia.

Tak ada budaya manusia yang tidak tersentuh sosok ini. 

Yesus ada di setiap inci eksistensi manusia, suka atau tidak.

Budaya populer mencoba merekam sosok Yesus di musik, opera, oratorio, lukisan, seni hingga film.

Dan film The Last Supper memotret kisah perjamuan terakhir dengan mendalam.

Ini film dengan tipe pendalaman psikologis yang mencoba menggali motif di balik perbuatan seseorang. Mirip film Joker.

Dari Arthur Flecth menuju Joker. Begitulah The Last Supper mendalami karakter Yudas dan Petrus.

Dari Yudas sang bendahara menjadi biadab terbesar dalam sejarah.

Dari Petrus yang dungu menjadi penginjil terbesar. 

Di malam perjamuan terakhir, keduanya gelisah. 

Petrus yang sudah mendengar desas-desus tentang penangkapan Yesus, mencoba mencari cara menyelamatkan sang guru.

Sedang Yudas terus digoda untuk menjual gurunya.

Bukan aksi kejar-kejaran atau pertarungan, tapi candu film ini adalah jiwa yang gelisah.

Bahkan Petrus dan Yudas gelisah sejak menit pertama.

Gelisah itu diarahkan pada suatu kesimpulan yang jadi klimaks film ini, hingga menyaksikan adegan itu memicu perasaan lepas.

Usai film ini, entah mengapa saya merasa sangat lega.

Mengapa Yudas mengkhianati Yesus ? Film ini punya teorinya sendiri. 

Mirip teori Khalil Gibran dalam bukunya Sang Nabi. Yudas melihat Yesus dan ia melihat kesempatan.

Yudas menatap Yesus dengan iman Yahudi.

Yesus dengan kemampuannya membuat mujizat berpotensi menjadi raja Yahudi yang akan menghancurkan romawi.

Harapannya hancur saat Yesus menolak semua itu.

"Kerajaanku bukan dari dunia ini."

Dari sinilah perang batin berkecamuk dalam batin Yudas. 

Yesus yang perkasa di medan perang versus Yesus yang membasuh kaki muridnya.

Yesus yang mengenakan mahkota raja dan kuasa dunia di bawah kakinya versus Yesus yang penuh kerendahan hati dan terlihat lemah lembut.

"Ia akan jatuh dan kamu juga akan jatuh."

Iblis menggoda dan Yudas akhirnya takluk.

Yudas takluk karena ia sejatinya tak pernah melihat Yesus.

Yang ia lihat adalah tahta dan kuasa dan Yesus adalah batu loncatan menuju ke sana.

Bukankah hal ini dekat dengan keseharian kita?

Banyak pemimpin politik maupun agama yang menjadikan Yesus sebagai jembatan menuju harta, tahta dan mungkin juga wanita. 

Nama Yesus senantiasa muncul dalam diksi birokrasi saat ini, dalam ibadah pagi, kata sambutan, testimoni dll.

Tapi di saat yang sama, birokrasi itu korup dan bajingan.

Tuhan mereka cium dengan mesra, sesudah itu Dia mereka sembelih sebagai korban kemuliaan diri.

Sedang Petrus, dalam kepolosannya, hanya mengejar Yesus. Ia menikmati Yesus sebagaimana adanya.

Ia menginginkan Yesus apapun harganya. 

Petrus versus Yudas dengan demikian adalah pertarungan antara Iman apa adanya versus iman ada apanya.

Dan bagi anda yang mungkin merasa hidup tak layak lagi dan ingin terjun di jembatan Interchange, adegan akhir Petrus mungkin bisa menghibur. (Arthur Rompis)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Bergabung dengan WA Tribun Manado di sini >>>

Simak Berita di Google News Tribun Manado di sini >>>

Baca Berita Update TribunManado.co.id di sini >>>

 

 

 

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved