Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Putin: Korea Utara dan BRICS Harus Bergabung dalam Perundingan Gencatan Senjata Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Ukraina dapat ditempatkan di bawah “pemerintahan sementara” sebagai bagian dari proses perdamaian.

Editor: Arison Tombeg
Kolase TM/AP/Gavriil Grigorov/Sputnik/Kremlin
TERSENYUM - Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri), dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, tersenyum bersama di Pyongyang, Korea Utara, pada 19 Juni 2024. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Ukraina dapat ditempatkan di bawah “pemerintahan sementara” sebagai bagian dari proses perdamaian. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Ukraina dapat ditempatkan di bawah “pemerintahan sementara” sebagai bagian dari proses perdamaian yang dapat mencakup bantuan dari Korea Utara dan sekutu Moskow lainnya, menurut media pemerintah Rusia.

Berbicara kepada sekelompok prajurit di pelabuhan utara Rusia, Murmansk, Putin memaparkan beberapa ketentuan untuk proses perdamaian guna mengakhiri perang tiga tahun yang diluncurkan oleh Moskow pada Februari 2022, menurut kantor berita negara Rusia, TASS.

Di antara banyak saran Putin adalah seruan untuk pemilihan umum baru di Ukraina dan "penandatanganan perjanjian penting" setelah negara itu berada di bawah administrasi internasional, kata TASS dikutip Al Jazeera.

"Pada prinsipnya, tentu saja, pemerintahan sementara dapat diperkenalkan di Ukraina di bawah naungan PBB, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan mitra kami," kata Putin seperti dikutip.

“Hal ini dilakukan untuk menyelenggarakan pemilihan umum yang demokratis dan membentuk pemerintahan yang cakap dan dipercaya oleh rakyat, kemudian memulai perundingan dengan mereka tentang perjanjian damai,” kata Putin dikutip Al Jazeera.

"Kami mendukung penyelesaian semua masalah ini dengan cara damai," katanya. "Namun, dengan menyingkirkan akar penyebab yang memicu situasi saat ini," imbuhnya.

Putin juga mengatakan negara-negara lain harus terlibat dalam proses perdamaian selain AS dan Rusia, termasuk sekutu perjanjian Moskow, Pyongyang.

“Ini bukan hanya Amerika Serikat tetapi juga Republik Rakyat Tiongkok, India, Brasil, Afrika Selatan, semua negara BRICS,” kata Putin.

“Dan banyak lainnya, misalnya, termasuk Republik Rakyat Demokratik Korea,” katanya, menggunakan nama resmi Korea Utara.

Pyongyang telah mengirim lebih dari 3.000 tentara baru untuk bergabung dengan pasukan Rusia yang bertempur di Ukraina , menurut militer Korea Selatan, melampaui 11.000 yang dikirim tahun lalu, di antaranya dilaporkan mengalami korban yang sangat besar akibat pertempuran dengan tentara Ukraina.

Putin juga mengatakan bahwa dia siap bekerja sama dengan Eropa, meskipun Eropa “bertindak tidak konsisten, terus-menerus mencoba membodohi kita”.

"Tapi tidak apa-apa, kami sudah terbiasa dengan hal itu. Saya harap kami tidak akan membuat kesalahan berdasarkan kepercayaan yang berlebihan kepada apa yang disebut mitra kami," katanya, menurut TASS.

Pujian ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump, yang oleh pemimpin Rusia digambarkan sebagai orang yang “dengan tulus mengharapkan berakhirnya konflik ini”.

Komentar Putin menyusul negosiasi terpisah di Riyadh, Arab Saudi minggu ini antara pejabat Rusia, Ukraina, dan AS yang bertujuan untuk mengamankan gencatan senjata sementara.

Menurut AS, Kyiv dan Moskow sepakat untuk menghentikan serangan militer terhadap kapal-kapal di Laut Hitam, tetapi pada hari-hari berikutnya, mereka berdua saling menuduh tidak menganggap serius pembicaraan damai.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved