Minggu, 12 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilpres AS

Pilpres AS: Biden vs Trump Kesulitan Meraih Kemenangan

Bahkan usai mantan Presiden Donald Trump divonis bersalah pekan lalu atas 34 tuduhan kejahatan, Trump dan Presiden Joe Biden masih bersaing ketat.

Editor: Arison Tombeg
Kolase Tribun Manado
Joe Biden dan Donald Trump. Usai mantan Presiden Donald Trump divonis bersalah pekan lalu atas 34 tuduhan kejahatan, Trump dan Presiden Joe Biden masih bersaing ketat. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Washington DC — Pemilihan Presiden atau Pilpres Amerika Serikat menarik disimak.

Bahkan usai mantan Presiden Donald Trump divonis bersalah pekan lalu atas 34 tuduhan kejahatan, Trump dan Presiden Joe Biden masih bersaing ketat.

Putusan bersalah dalam persidangan kasus uang rahasia, Trump semakin melemahkan posisinya di mata para pemilih.

Ronald Brownstein dalam artikelnya berjudul "Why Biden and Trump struggle to make gains when the other stumbles" dikutip CNN menjelaskan, menariknya, hal ini tidak memperkuat posisi Biden.

Pilpres AS kemungkinan besar akan bergantung pada apakah lebih banyak pemilih di negara-negara bagian utama ragu terhadap Trump atau Biden.

“Mengingat ketidakpopuleran kedua kandidat, saya pikir salah satu kandidat bisa menang jika peringkat negatifnya jauh lebih tinggi dibandingkan peringkat positifnya,” kata Whit Ayres, pakar jajak pendapat dari Partai Republik.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa Biden dan Trump sama-sama mendapatkan dukungan dari sejumlah besar pemilih yang menyatakan tidak suka terhadap mereka, sebagian besar menganggap alternatif lebih tidak menyenangkan.

Baca juga: Survei Pilpres AS versi Ipsos: Biden Salip Trump, Skor 41 - 39 Persen

Biden dalam berbagai jajak pendapat, misalnya, memenangkan lebih banyak pemilih yang tidak menyetujui kinerjanya sebagai presiden dibandingkan Trump yang ingin terpilih kembali.

Dalam pencalonan kembali, Barack Obama pada tahun 2012 dan Donald Trump pada tahun 2020 masing-masing hanya memenangkan 3 persen pemilih.

Mereka tidak menyetujui kinerja petahana. Demikian jajak pendapat yang dilakukan oleh Edison Research kerja sama CNN.

George W Bush hanya memenangkan 6 persen dari mereka yang tidak setuju pada pemilu tahun 2004, berdasarkan hasil jajak pendapat.

Bagi Biden, jajak pendapat terbaru Marist/NPR/PBS NewsHour yang dirilis minggu lalu merupakan hal yang biasa. Ditemukan bahwa 15 persen pemilih yang tidak menyetujui kinerjanya mengatakan mereka akan tetap memilihnya.

Hal ini memperluas pola pemilu paruh waktu pada tahun 2022, ketika terdapat 12 persen pemilih yang tidak menyetujui Biden memilih calon anggota DPR dari Partai Demokrat.

Persentase yang lebih tinggi lagi dari mereka yang tidak menyetujui Biden memilih Demokrat dalam pemilu penting di seluruh negara bagian seperti Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin maupun pemilihan gubernur, menurut exit poll.

Para pemilih yang mengatakan bahwa mereka “sangat” tidak menyetujui Biden memberikan suara terbanyak untuk Partai Republik pada tahun 2022.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved