Hikmah Ramadhan
Pendidikan 5 K di Bulan Ramadhan
5 K adalah Kejujuran, Kesabaran, Kedisiplinan, Kesehatan dan Kearifan. Disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Ahmad Rajafi, M.H.I.
Oleh:
Prof. Dr. KH. Ahmad Rajafi, M.H.I
Rektor IAIN Manado/Rois Syuriah PCNU Manado
TRIBUNMANADO.CO.ID - Bulan Ramadhan sebagai bulan suci, dihadirkan oleh Allah swt hanya satu bulan dari dua belas bulan, dengan perintah utama berupa puasa, memiliki keistimewaan yang berguna bagi setiap orang-orang yang beriman.
Untuk itulah nilai puasa akan berimplikasi positif baik yang sukses dan berimplikasi negatif bagi yang gagal.
Setidaknya Islam menginformasikan bahwa kegagalan berpuasa terdiri dari dua kategori, yakni;
1) kegagalan zhahiriyyah berupa batalnya puasa akibat makan, minum, bercampur dengan istri, dari terbit fajar hingga terbenam matahari (Rasyid Ridha, al-Manar, h.143);
2) kegagalan bathiniyah berupa hilangnya pahala puasa karena membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu (HR. Ad-Dailami).
Demi mendapatkan kualitas paripurna berupa ketakwaan kepada Allah SWT, maka informasi syar’iyyah di atas harus didukung dengan pendidikan 5 K, yakni:
Pertama Kejujuran : Allah swt melalui hadits Qudsi menjelaskan bahwa “puasa adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang menilai kualitas puasa seseorang”, untuk itu puasa akan mendidik seseorang berlaku jujur dari segala hal yang membatalkan puasa, walaupun tidak ada yang mengetahui, dan tidak ada yang melihat, bahkan bila batal dalam berpuasa pun – karena alasan yang dibenarkan oleh syari’at – maka ia dengan sukarela akan menggantinya di luar bulan Ramadhan tanpa harus diperintah. Rasulullah saw mengingatkan, “hendaknya kalian senatiasa berlaku jujur, karena kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa pada surga-Nya Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua Kesabaran : Puasa dimaksudkan untuk melatih kesabaran (Lisan al-Arab, 12/350), bahkan puasa merupakan separuh (dari) sabar (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Latha’if al-Ma’arif, h.207), untuk itulah maka Allah swt menghadiahkan pahala yang berlipat ganda dan tanpa batas bagi orang yang berpuasa dengan penuh kesabaran (QS. Az-Zumar:10). Imam Ibnu Rajab mengklasifikasi kesabaran dalam berpuasa pada tiga hal, yakni kesabaran atas ketaatan kepada Allah, kesabaran atas apa yang diharamkan Allah kepada orang yang berpuasa yaitu nafsu syahwat, dan kesabaran atas sesuatu yang dihasilkan orang puasa (dari puasanya) yaitu kesusahan lapar, haus, lemahnya diri dan badan (h.208).
Ketiga Kedisiplinan : Ada tiga bentuk disiplin yang dididikan dari puasa, yakni; 1) Disiplin dalam menunaikan kewajiban, apalagi kewajiban ini telah dibebankan kepada generasi sebelumnya (QS. Al-Baqarah:183); 2) Disiplin dalam waktu, yakni menggunakan waktu sebaik mungkin dalam konteks pengabdian kepada Allah swt, dan ibadah di bulan Ramadhan semua terikat dengan waktu, seperti kapan sahur, berbuka puasa, shalat tarawih, bahkan kapan berhubungan suami-istri pun telah diatur; 3) Disiplin dalam menerapkan hukum, di mana puasa melatih seseorang dari sesuatu yang semula boleh menjadi tidak boleh, seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri di siang hari, dan ini cukup berat dalam menerapkannya, sehingga puasa menjadi diklat implementasi hukum.
Keempat Kesehatan : Nabi saw menjelaskan “berpuasalah maka kalian akan menjadi sehat”. Bepuasa melatih seseorang untuk hidup sehat dengan mencegah kelebihan makan, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh. Saat berpuasa, karena ada fase istirahat setelah fase pencernaan normal, yang diperkirakan 6 sampai 8 jam, maka pada fase tersebut terjadi degradasi dari lemak dan glukosa darah. Imam Al-Ghazali mengutip ungkapan Imam Al-Syafi’i, di mana ketika pola makan tidak diatur bahkan berlebihan akan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, kecerdasan menjadi menurun, selalu mengantuk, dan akhirnya menjadi pemalas dalam beribadah (Ihya' Ulumiddin, 1/59).
Kelima Kearifan : Ramadhan menjadi keberkahan, ampunan sekaligus cara umat Islam untuk menjadi lebih arif. Betapa tidak, tiap hari ditempa untuk menahan diri dari segela bentuk yang membatalkan puasa dan/atau menghilangkan pahala puasa secara pelan-pelan akan menjadikan ruhani menjadi lebih tenang hingga mampu menjadi arif dan memunculkan kasih sayang terhadap sesama. Artinya, orang yang berpuasa akan mampu merasakan penderitaan sesama dan hatinya akan tergerak untuk membantu, seperti yang awalnya enggan bersedekah lalu bersedekah, dsb. Wallahua’lam. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.