Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Hikmah Ramadhan

Pengalaman Berpuasa di Manado : Antara Budaya dan Keberagamaan

Nilai-nilai kemajemukan menciptakan kerukunan dan toleransi yang telah lama ada di kota Manado.

Kolase/tribunmanado.co.id/Dokumentasi Sahari
Dr. Sahari, M.Pd.I Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado 

Oleh:

Dr. Sahari, M.Pd.I
Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kota Manado sebagai kota majemuk yang warga dan penduduknya berasal dari berbagai macam etnis, ras, dan agama. Nilai-nilai kemajemukan menciptakan kerukunan dan toleransi yang telah lama ada di kota Manado.

Terkhusus dengan aktivitas keagamaan di bulan Ramadhan untuk umat muslim kota manado memiliki ciri khas tersendiri, dengan jumlah umat muslim yang sekitar 37 persen dari jumlah keseluruhan penduduk berdasarkan data BPS.

Dengan jumlah umat muslim tersebut orang-orang diluar manado (outsider) akan menduga bulan Ramadhan tidak akan meriah, namun data dan fakta menunjukkan di bulan Ramadhan kota Manado justru meriah dengan berbagai ritual budaya umat Islam yang bahkan diikuti oleh bagi yang non-muslim.

Dalam setiap tahunnya, kita menyaksikan fenomena yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat Manado saat bulan Ramadhan tiba. 

Jalanan dipenuhi dengan aneka jajanan yang menggoda selera, sementara masjid-masjid dipenuhi dengan orang-orang yang membawa kue dan hidangan lezat untuk berbuka puasa bersama. Fenomena ini menandai kehadiran bulan suci Ramadhan yang membawa semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian sosial di tengah-tengah kita.

Mari kita renungkan bersama bagaimana fenomena ini bisa menjadi bahan pelajaran yang bermakna bagi kita.

Fenomena jualan takjil ini bukan hanya untuk umat muslim, seluruh umat beragama yang ada di manado, mereka juga ikut berburu takjil khas bulan Ramadhan, bahkan di pukul 14.00 – 16.00 wita mereka yang non-muslim yang terlebih dahulu membeli takjil untuk dijadikan makan siang atau cemilan sore.

Hal tersebut menunjukkan bahwa bulan Ramadhan bukan hanya milik umat muslim melainkan berkah untuk semua umat beragama di kota Manado.

Fenomena jualan aneka jajanan sepanjang jalan mengingatkan kita akan semangat persaudaraan yang terwujud dalam kedermawanan. Ketika kita membeli jajanan dari pedagang-pedagang kecil di jalanan, tidak hanya memenuhi kebutuhan kita, tetapi juga memberikan dukungan kepada mereka yang berusaha dengan keras untuk mencari nafkah.

Saat kita melihat orang-orang membawa kue dan hidangan lezat ke masjid untuk berbuka bersama, itu adalah ungkapan dari tradisi berbagi dan saling peduli di antara sesama Muslim.

Ini adalah momen yang indah di mana kita berbagi keberkahan dan kegembiraan dengan orang-orang di sekitar kita, tanpa memandang perbedaan status atau kekayaan.

Kebiasaan yang ditunjukkan oleh masyarakat muslim Manado selama bulan Ramadhan ini merupakan wujud pengamalan terhadap hadis nabi;

“Siapa yang memberi makan (saat berbuka) untuk orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang diberi makannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya.” (HR At-Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan betapa besar dan berlimpahnya pahala yang diberikan Allah SWT. kepada orang yang berbuat baik, terutama selama bulan Ramadan di mana pahala amal baik dilipatgandakan.

Dalam konteks ini, memberi makan kepada orang yang berpuasa tidak hanya mendatangkan pahala yang besar, tetapi juga pahala tersebut dikalikan dengan lipatannya yang besar karena berada dalam bulan yang penuh berkah ini.

Memberi makan kepada orang yang berpuasa merupakan salah satu bentuk kebaikan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Tindakan ini tidak hanya memberikan manfaat materiil kepada yang membutuhkan, tetapi juga memberikan rasa dukungan, penghormatan, berbagi kebahagiaan, memberikan rasa kebersamaan dan persaudaraan di antara umat Islam, serta menunjukkan solidaritas dan empati terhadap mereka yang berpuasa.

Hadis ini menunjukkan betapa dahsyatnya amal kebaikan, terutama memberi makan kepada orang yang berpuasa, selama bulan Ramadan. Ini adalah peluang emas bagi umat Islam untuk memperoleh pahala yang besar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang sederhana.

Ketika kita melihat banyak orang berkumpul di masjid untuk beribadah dan berbuka bersama, itu menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan dalam menjalankan ibadah.

Ramadhan bukanlah hanya tentang ibadah secara individu, tetapi juga tentang membangun ikatan sosial dan spiritual dengan sesama umat Muslim. Fenomena ini bukanlah sekadar tradisi atau rutinitas biasa, tetapi merupakan cerminan dari kekuatan kebersamaan dan persaudaraan yang begitu penting dalam Islam.

Saat kita melihat banyak orang berkumpul di masjid, ini adalah bukti betapa pentingnya kebersamaan dalam menjalankan ibadah.

Ramadhan bukanlah sekadar tentang puasa atau ibadah secara individu, tetapi juga tentang membangun ikatan sosial dan spiritual dengan sesama umat Muslim. Saat kita beribadah bersama-sama, kita merasakan kehangatan kebersamaan dan kekuatan spiritual yang mempersatukan kita sebagai umat Muslim.

Bukanlah hal yang mudah untuk menjalani ibadah puasa Ramadhan secara individu. Tantangan-tantangan yang kita hadapi, baik itu lapar, dahaga, atau godaan-godaan lainnya, dapat menjadi lebih mudah ditanggulangi ketika kita memiliki dukungan dan kebersamaan dengan sesama Muslim.

Ketika kita berbuka bersama di masjid, itu adalah momen yang penuh kebahagiaan dan sukacita. Kita saling berbagi makanan, cerita, dan doa-doa, memperkuat ikatan sosial dan spiritual kita dengan Allah SWT dan sesama Muslim.

Saat kita merasakan kebersamaan ini di bulan Ramadhan, mari kita jadikan momen ini sebagai inspirasi untuk memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia, serta menjadikan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan sebagai landasan bagi tindakan-tindakan kita yang penuh kasih sayang dan kebaikan.

Fenomena ini juga mengingatkan kita akan pentingnya meningkatkan kepedulian sosial, terutama terhadap mereka yang kurang beruntung di tengah-tengah masyarakat kita.

Saat kita menikmati hidangan berbuka bersama, mari juga berpikir tentang bagaimana kita bisa membantu mereka yang tidak mampu menikmati makanan yang sama.

Fenomena ini bukan hanya sekadar pemandangan biasa di bulan Ramadhan, tetapi juga merupakan panggilan untuk kita semua untuk lebih peduli, lebih berbagi, dan lebih menghargai persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mari kita jadikan momen ini sebagai inspirasi untuk menjadi individu yang lebih dermawan, lebih peduli, dan lebih menyatu dengan masyarakat sekitar kita.

Itulah makna paling dalam dari menahan diri makanan dan minuman sebagai yaituu sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap orang-orang yang tidak mampu melalui memperbanyak bersadaqah di bulan ramadhan.

Al-Qur'an mengingatkan kita tentang pentingnya memberi dalam Surah Al-Baqarah (2:261):

Artinya:

"Misal orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki."

Ayat ini menegaskan bahwa amalan sadaqah tidak hanya memberikan manfaat kepada orang yang menerimanya, tetapi juga akan mendatangkan banyak keberkahan dan kebaikan bagi pelakunya.

Dalam konteks puasa Ramadhan, sadaqah menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial, mengurangi penderitaan sesama, dan meningkatkan solidaritas di antara umat Muslim.

Dengan demikian, dalam puasa Ramadhan, sadaqah bukan hanya sekadar kewajiban atau amalan kebajikan, tetapi juga merupakan wujud konkret dari kepedulian sosial yang mendalam.

Melalui sadaqah, kita dapat merasakan makna yang paling dalam dari puasa, yaitu membantu sesama manusia, mengurangi penderitaan mereka, dan memperkuat ikatan sosial di antara umat Muslim.

Marilah kita manfaatkan kesempatan yang diberikan oleh bulan suci Ramadhan ini untuk meningkatkan amalan sadaqah kita, sehingga kita dapat merasakan keberkahan dan kebaikan yang melimpah dari Allah SWT.

Semoga Allah memberkahi setiap langkah kita dalam berbuat kebaikan dan menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan. (*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved