Kabar Israel Palestina
Profil David Ben Gurion, Pendiri Negara Israel yang Merdeka 14 Mei 1948
Profil David Ben Gurion, Pendiri Negara Israel yang Merdeka 14 Mei 1948. Lahir di Polandia.
Pada Maret 1949, dia secara resmi menjadi perdana menteri dalam pemerintahan pertama Israel.
Sejak saat itu hingga tahun 1960-an, ia memimpin kehidupan politik di Israel dengan kendali yang hampir penuh, meski memiliki beberapa musuh politik, terutama karena ia adalah seorang sosialis dan sekuler.
Namun, Ben Gurion mempunyai popularitas yang sangat tinggi, hampir seperti "pemujaan", di antara banyak kelompok di negara ini.
Sehingga, kewenangannya dalam memutuskan urusan pertahanan dan juga urusan luar negeri selalu diterima.
Beberapa kali, ketika dia tidak dapat meyakinkan koalisi untuk melaksanakan keinginannya, dia mengundurkan diri dan pergi ke pondoknya di Kibbutz Sde Boker.
Namun sering kali juga dia cukup mengeluarkan ancaman demi mendapatkan yang diminta.
Hanya ada satu kejadian pada tahun 1953 ketika dia menyatakan dirinya "lelah, lelah, lelah"
dan pensiun selama 14 bulan, hingga dia diminta kembali ke Yerusalem sebagai menteri pertahanan.
Tak lama kemudian, pada November 1955, ia kembali menjadi perdana menteri.
Saat itulah Israel mengambil kebijakan yang berujung pada perang lagi, dan momen tergelap dalam karier Ben Gurion.
Kekalahan dan kemenangan
Dia meyakini bahwa ancaman terbesar Israel adalah serangan yang akan segera diluncurkan oleh Mesir, yang telah menerima senjata dari Uni Soviet dan berkolusi dengan Perancis serta Inggris, dia melancarkan "perang preventif" melawan tentara Mesir.
Pasukan Perancis dan Inggris, yang ingin merebut Terusan Suez, pada awalnya menang,
namun Amerika menentang agresi tersebut dan mendukung permintaan PBB agar semua penyerbu pergi dari Mesir.
Hal ini, ditambah ancaman campur tangan Uni Soviet, menyebabkan seluruh rencana gagal dengan cara yang, paling tidak, memalukan.
Ben Gurion mencoba untuk mendesak dilakukannya konsesi, tetapi dia menemui jalan buntu dan tidak punya pilihan selain menerima kekalahan yang kemudian bisa dia selamatkan berkat ketangguhannya.
Empat tahun kemudian, Ben Gurion kembali menentang opini dunia ketika dia memutuskan untuk mengadili Adolf Eichmann, kolonel Gestapo yang telah mengirim jutaan orang Yahudi ke kamp kematian selama Perang Dunia II.
Penculikan pemimpin Nazi di Argentina memicu kritik, dan kemungkinan dia diadili di Israel,
menimbulkan kekhawatiran: ada protes bahwa Eichmann hanya bisa mendapatkan pengadilan yang adil di pengadilan Jerman atau internasional.
Ben Gurion dituduh arogan ketika dia menyatakan bahwa Israel “dari sudut pandang moral” adalah satu-satunya tempat di mana Eichmann dapat dihakimi.
Kali ini, buktilah yang membebaskan Ben Gurion dari pandangan negatif.
Persidangan tersebut disiarkan di televisi pada 1961 dan dunia dapat melihat para hakim melakukan tugasnya dengan sempurna sehingga Robert Servatius,
pengacara Eichmann yang berkebangsaan Jerman, mengakui bahwa terdakwa mendapatkan persidangan yang lebih adil dibandingkan di Jerman Barat.
Status mulia Ben Gurion di negaranya meningkat.
Tampak bahwa pemerintahannya, betapapun kontroversialnya, tidak akan berakhir.
Namun pada akhirnya, negarawan yang menjabat terlalu lama akan mengalami nasib yang pahit: kesalahan masa lalu kembali menghantui mereka, dan para pengikut mereka yang sudah muak berkata "cukup".
Pada 1963, ia mengundurkan diri sebagai perdana menteri.
Selama tahun-tahun terakhirnya sebagai perdana menteri, dia sekali lagi mengulurkan tangannya "kepada semua negara tetangga dan rakyat mereka dalam tawaran perdamaian dan hubungan bertetangga yang baik", seperti yang dia katakan dalam Deklarasi Kemerdekaan.
Namun upaya ini tetap meluas, karena, meskipun ia memprakarsai beberapa rencana untuk mengadakan pembicaraan rahasia dengan para pemimpin Arab dengan tujuan membangun perdamaian di Timur Tengah, tidak ada yang membuahkan hasil.
Ia akhirnya pensiun dari dunia politik ketika berusia 84 tahun, pada 1970.
Ben Gurion mampu melihat tanda-tanda trauma internal yang nantinya akan menimpa Israel.
Setelah perang 1967, ia menentang mempertahankan wilayah Arab di luar Yerusalem.
Ketakutan akan Perang Yom Kippur pada tahun 1973, ketika serangan gabungan pasukan Mesir dan Suriah di dua wilayah berbeda membuat Israel tidak siap, dalam pandangan Ben Gurion, merupakan tanda arogansi dan rasa berpuas diri yang berbahaya.
Bagi seorang pria yang terobsesi dengan cita-cita kerja keras, itu adalah sifat yang menjijikkan.
Dia meninggal dua bulan setelah berakhirnya perang itu pada usia 87 tahun.
Dia, pada akhirnya, adalah seorang pria dengan energi yang luar biasa, secara fisik dan intelektual, "sangat lincah," menurut penulis Israel Amos Oz.
Dia berbicara bahasa Rusia, Yiddish, Turkiye, Perancis, dan Jerman. Dia membaca bahasa Arab dan belajar bahasa Spanyol.
Pada usia 56 tahun dia belajar bahasa Yunani untuk membaca Septuaginta, Perjanjian Lama versi Yunani; Pada usia 68 tahun, ia belajar bahasa Sansekerta untuk membaca Dialog Buddha.
Dia melakukan yoga di pasir Mediterania, dan meskipun foto-foto yang menunjukkan posisi dia terbalik memicu komentar ironis, teman-temannya mengatakan bahwa 'Hazaken atau Pak Tua', begitu dia disapa, lebih pintar dari kebanyakan lawannya.
Seiring berlalunya waktu, kritik terhadap Ben Gurion memudar, dan citranya yang mengesankan karena memiliki visi dan memberikan kontribusi nyata, tetap ada.
Namun karena hidup Ben Gurion sangat erat kaitannya dengan pembentukan negara Israel, ia menjadi sosok yang dicintai namun juga dibenci.
Baca juga: Gencatan Senjata Berakhir, Israel Kembali Bombardir Hamas di Gaza
Tayang di Kompas.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Profil-David-Ben-Gurion-Pendiri-Negara-Israel-yang-Merdeka-14-Mei-1948.jpg)