Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Israel Palestina

Profil David Ben Gurion, Pendiri Negara Israel yang Merdeka 14 Mei 1948

Profil David Ben Gurion, Pendiri Negara Israel yang Merdeka 14 Mei 1948. Lahir di Polandia.

Editor: Frandi Piring
Kompas.com via BBC Indonesia/Getty Images
Profil David Ben Gurion, Pendiri Negara Israel yang Merdeka 14 Mei 1948 

Setelah kemerdekaan tercapai, dia mendesak agar semua kelompok bersenjata dibubarkan dan menjadi bagian dari Pasukan Pertahanan Israel.

Kekuatan baru ini segera beraksi, memerangi dan mengalahkan tentara negara-negara Arab yang berusaha menyerang negara baru itu.

Di semua lini

Pada 14 Mei 1948, Yerusalem dikepung oleh Legiun Arab Transyordania; Di utara, pemukiman Yahudi diserang oleh pasukan Suriah dan Irak, sementara Mesir menyerbu dari selatan.

Ini adalah ujian terbesar yang dihadapi pemimpin berusia 62 tahun itu dengan mengambil alih komando operasi militer, dan secara de facto menjadi perdana menteri dan menteri pertahanan.

Meski beberapa keputusannya menimbulkan pertanyaan, pada akhirnya Ben Gurion dipenuhi dengan kejayaan karena telah memenangi kampanye Yahudi pertama sejak perlawanan Yudas Maccabeus 2.000 tahun sebelumnya.

Hal ini membuatnya menjadi sosok yang disegani bagi banyak orang: seorang patriark bijak yang akan menjamin kelangsungan negara dengan kemenangan atas banyak musuhnya.

Namun berkat bagi sebagian orang merupakan kecaman bagi sebagian lainnya.

Bagi warga Arab Palestina yang menolak pembagian wilayah yang disetujui PBB, ini adalah awal dari Nakba, malapetaka yang mereka alami sejak itu.

Sebelum perang 1948, sekitar 1,4 juta warga Palestina tinggal di Palestina wilayah mandatori Inggris, dan 900.000 di antaranya tinggal di wilayah yang menjadi negara Israel.

Mayoritas dari populasi tersebut, antara 700.000-750.000 orang, secara aktif diusir atau melarikan diri ke luar perbatasan--ke Suriah, Lebanon, Mesir atau Transyordania--atau ke wilayah yang dikuasai oleh tentara Arab yang terlibat dalam perang (Tepi Barat dan Jalur Gaza).

Dengan aturan yang begitu ketat, mereka yang keluar tidak pernah diizinkan kembali ke rumah dan tanah mereka, sebuah kebijakan Israel yang dibuat selama perang.

Nakba bagi rakyat Palestina adalah sebuah proses yang tidak pernah berakhir, dan selama tahun-tahun pertama, orang yang memimpin keputusan yang berdampak pada mereka itu adalah Ben Gurion.

Setelah Perang Kemerdekaan, Ben Gurion mengadopsi kebijakan pembalasan yang cepat dan keras terhadap serangan Arab ke Israel,

yang sering kali membuat khawatir PBB dan terus memperkuat penolakan dari negara-negara tetangga.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved