Sulawesi Utara
Solusi Hadapi Ancaman Bahaya Kekeringan Menurut Pengamat Lingkungan Pingkan Peggy Egam
Pengamat Lingkungan Dr Eng Ir Pingkan Peggy Egam, ST MT IPM, mengatakan kemarau pajang mengakibatkan kekeringan diberbagai tempat.
Penulis: Ferdi Guhuhuku | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak fenomena iklim El Nino yang akan memicu cuaca panas ekstrem di Indonesia pada Agustus Oktober 2023 dan akan berlanjut hingga awal 2024.
Pengamat Lingkungan Dr Eng Ir Pingkan Peggy Egam, ST MT IPM, mengatakan kemarau pajang mengakibatkan kekeringan diberbagai tempat.
Masyarakat mengalami gagal panen, cadangan air bersih mengalami penurunan drastis, debit dan cadangan air di sungai menipis, terjadi kekeringan disana-sini, bahkan pada beberapa lokasi terjadi kebakaran hutan.
Kemarau panjang melanda bumi Indonesia bahkan berbagai belahan dunia lainnya. Selain itu kondisi hawa panas yang dirasakan masyarakat membawa satu tekanan psikologi dan Kesehatan.
Kawasan persawahan yang dulunya hijau kini menjadi kering. Hamparan warna kehijauan kini berubah menjadi kuning kecoklatan yang kering dan rapuh.
Rumput hijau yang tumbuh di pekarangan rumah, tanaman warna-warni yang silih berganti, aliran air yang mengalir di sungai dan selokan mulai mengecil seakan ingin menyampaikan betapa sulitnya mempertahankan diri.
"Itulah kenyataan yang dialami oleh Masyarakat akibat fenomena iklom El Nino yang memicu cuaca ekstrim yang sedang
dialami saat ini," ujar Pingkan, Senin ( 4/9/2023).
Kata Pingkan, perubahan iklim yang sedang dialami saat ini yang akibat pemanasan global menimbulkan berbagai perubahan dengan pola risiko baru yang dialami.
Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bencana kekeringan di suatu wilayah.
Baik kekeringan yang terjadi secara alamiah maupun kekeringan akibat ulah manusia.
Diantaranya, Curah hujan dibawah normal, menipisnya vegetasi yang dulunya tumbuh lebat, sehingga lahan menjadi gundul, ataupun faktor perilaku sosial di mana masyarakat suatu daerah belum bisa mengelola sumber daya air yang ada secara baik, ataupun prasarana sumber daya air yang kurang.
Dalam kondisi seperti saat ini, tentunya sebagai umat yang percaya akan kebesaranNya harus tetap bersyukur dan mengamini akan kondisi yang dialami.
Tetapi sebagaimana hikmat dan kecerdasan yang telah dianugerahkan, selayaknya kita sebagai masyarakat berusaha, tidak pasrah pada keadaan dan berdiam diri.
"Kecerdasan perlu diolah secara maksimal, sehingga membangun komunikasi yang lebih erat dengan pemerintah melalui instansi terkait akan memperkecil dampak," tuturnya.
Dosen Teknik Arsitektur Universitas Sam Ratulangi ini mengungkapkan kondisi ini harus dihadapi secara bersama-sama dengan pemerintah, sehingga masyarakat dan pemerintah bahu membahu menghadapi bencana kekeringan yang dialami.
29 Warga Korban Lakalantas dan Amputasi akan Terima Kaki Palsu Gratis dari Ditlantas Polda Sulut |
![]() |
---|
Kusriadin Terpilih Jadi Ketua Asperindo Sulawesi Utara, Bakal Atur Tarif yang Berpihak ke Konsumen |
![]() |
---|
Sosok dr Truly Kerap: Dokter, Jurnalis, hingga Kini Diangkat Jadi Ketua KPID Sulawesi Utara |
![]() |
---|
Daftar Peristiwa di Sulut: Penemuan Perahu Nelayan, Perkembangan Kasus Korupsi Dana Hibah GMIM |
![]() |
---|
Operasional KM Barcelona Dibatasi, Warga Talaud Mengeluh, Aktivitas dan Roda Ekonomi Makin Lambat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.