Tajuk Tamu
Optimalisasi Peran Tenaga Kesehatan untuk Pencegahan Stunting
Permasalahan stunting di Indonesia menjadi ancaman terbesar bagi generasi penerus masa depan bangsa
B. Bagaimana tenaga kesehatan masyarakat dapat menjadi prime mover di era preventif
dan promotif pencegahan stunting?
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi pada balita. Stunting biasanya
ditandai dengan gangguan pertumbuhan pada anak yaitu tinggi badan anak yang lebih rendah
atau kerdil dari standar usianya.
Selain itu, stunting juga dapat membuat balita lebih rentan terhadap penyakit degenerative serta mempengaruhi kecerdasan. Terdapat beberapa aspek yang menyebabkan kejadian stunting pada balita. Namun, penyebab paling mendasar berasal dari tingkatan individu dan juga rumah tangga. Faktor rumah tangga atau keluarga mencakup nutrisi yang kurang pada sepanjang masa kehamilan, tinggi badan ibu yang rendah, infeksi, kehamilan pada usia remaja, kesehatan mental, jarak kehamilan yang pendek dan juga hipertensi.
Selain itu, faktor lingkungan keluarga yang mencakup pola asuh pada anak yang salah, ketersediaan pangan yang kurang, serta kondisi sanitasi yang buruk. Tidak hanya sampai disitu saja, kejadian anemia pada remaja putri juga berpengaruh terhadap kejadian stunting mengingat kesehatan remaja putri sebagai calon ibu sangat penting.
Upaya preventif dan promotif merupakan salah satu upaya kesehatan yang tengah marak
dilakukan oleh pemerintah akhir-akhir ini dalam rangka pencegahan stunting. Meskipun
begitu, tenaga kesehatan masyarakat belum sepenuhnya dilibatkan secara optimal.
Layaknya seperti sebuah mesin penggerak utama atau prime mover tenaga kesehatan masyarakat dengan bidang keilmuan yang dimiliki akan mampu mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat
terkait kesehatan. Tenaga kesehatan masyarakat akan menjadi pelopor dan pusat dalam upaya
preventif dan promotif pencegahan stunting, mulai dari menyusun strategi kebijakan pencegahan stunting, promosi kesehatan terkait pencegahan stunting, pemantauan kejadian dan
faktor risiko stunting, perbaikan sanitasi lingkungan, serta kesehatan dan keselamatan dalam
bekerja.
Para tenaga kesehatan masyarakat memiliki kemampuan serta keahlian yang berbeda
dengan tenaga kesehatan lainnya dalam berinteraksi dengan masyarakat. Kemampuan serta
keahlian tersebut hanya dapat dilihat ketika dilibatkan langsung dalam upaya kesehatan yang
ada. Kemampuan dalam berinteraksi dengan masyarakat, serta keahlian dalam bidang
pencegahan dan peningkatan kesehatan untuk pencegahan stunting membuat tenaga kesehatan
masyarakat mampu untuk menjadi prime mover di era preventif dan Promotif pencegahan
stunting.
C. Optimalisasi peran seperti apa yang ditawarkan?
Peran tenaga kesehatan masyarakat dalam rangka pencegahan stunting melalui preventif dan
promotif mencakup 2 (dua) optimalisasi peran yang ditawarkan yaitu:
1. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Menuju Generasi Bebas Stunting
Tingkatan pengetahuan masyarakat terkait factor risiko stunting sangat pengaruh terhadap
peningkatan kejadian stunting.
Peran tenaga kesehatan masyarakat di sini sangat dibutuhkan
dalam berkomunikasi kepada masyarakat tentang informasi factor risiko yang dapat
menyebabkan stunting, prevalensi stunting dari masa ke masa, serta mengedukasi masyarakat
untuk bersama mencegah peningkatan prevalensi stunting. Metode yang dapat dilakukan yaitu
dengan:
a. Penyuluhan Pencegahan Stunting
Penyuluhan dilakukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait factor risiko
stunting dalam hal ini tenaga kesehatan masyarakat akan menjadi pelaku utama dalam
mengedukasi masyarakat.
Adapun sasaran dalam kegiatan ini yaitu remaja, calon pasangan usia subur/calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak usia 0-59 bulan. Kegiatan
ini akan dilakukan secara rutin berdasarkan perencanaan yang telah dilakukan oleh para tenaga
kesehatan masyarakat dengan bantuan dukungan dan fasilitas dari pemerintah sebagai
pemangku kepentingan. Terkait materi yang diberikan akan disesuaikan dengan sasaran
penyuluhan yang akan dilakukan.
b. Literasi Kesehatan
Kemampuan literasi merupakan salah satu hal yang wajib dikembangkan oleh masyarakat dari
berbagai kalangan. Adanya budaya literasi dapat membantu masyarakat menemukan berbagai
informasi penting serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Literasi
kesehatan menjadi salah satu bentuk literasi yang dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan terutama terkait stunting. Hadirnya tenaga kesehatan masyarakat diharapkan
mampu mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan budaya literasi kesehatan terkait
pencegahan stunting demi mendukung pembangunan kesehatan.
2. Peningkatan Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
UKBM merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang telah dibentuk
sebelumnya yang dikelola oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan bimbingan petugas
puskesmas, lintas sector dan lembaga terkait lainnya.
UKBM ini sendiri perlu dikelola tidak hanya oleh petugas puskesmas saja, melainkan oleh para tenaga kesehatan masyarakat Pelaksanaan UKBM dengan mengutamakan upaya preventif dan promotif haruslah digerakkan langsung oleh tenaga kesehatan masyarakat yang memiliki keahlian serta kemampuan dalam hal pengabdian kepada masyarakat.
Adapun jenis UKBM yang perluh untuk di tingkatkan yaitu posyandu balita, posyandu remaja, poliklinik kesehatan desa, pos gizi, pos penyuluhan KB, serta kegiatan lain sesuai kesepakatan antara tenaga kesehatan masyarakat dan juga masyarakat dengan difasilitasi oleh pemerintah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/linda-mahundingan.jpg)