Prabowo Subianto
Prabowo Dinilai Sulit Raup Suara Jika Pasangannya Airlangga atau Cak Imin, Ini Kata Pengamat Politik
Pengamat Idil Akbar menilai sulit bagi Gerindra Prabowo Subianto mendulang suara jika dipasangkan dengan Muhaimin Iskandar maupun Airlangga Hartarto.
Nusron menegaskan apabila hal itu terwujud maka otomatis akan tercipta koalisi baru yang besar beranggotakan minimal 4 partai parlemen.
"Bahkan bisa nambah partai lain baik dari partai yang punya kursi di DPR atau non-parlemen," ujarnya.
Baca juga: OSO Ungkap Alasan Partai Hanura Dukung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024
Prabowo Dinilai Tunggu Golkar Gabung Koalisi Gerindra-PKB Sebelum Umumkan Cawapres
Prabowo Subianto diyakini masih ingin merangkul Partai Golkar sebagai rekan koalisi bersama PKB, sebelum memutuskan siapa calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampinginya.
Hal tersebut dikatakan Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aisah Putri Budiarti.
Dia mengatakan, masih ada beberapa bulan menuju pendaftaran kandidat pilpres dan ini tentu dimanfaatkan oleh semua partai untuk melakukan lobi politik membangun koalisi politik.
“Hal ini tidak luput dilakukan oleh Gerindra dan Prabowo. Meski koalisi bersama PKB cukup untuk mencalonkan kandidat pilpres, tetapi memperluas koalisi tentu akan menguntungkan bagi Gerindra,” ujar Aisah kepada wartawan, Selasa (30/5/2023).
Aisah menambahkan partai yang saat ini dilobi adalah Golkar, salah satu partai besar dengan loyalitas pemilih yang stabil.
Namun, lanjut dia, Golkar sudah punya nama yang diusung oleh partai sebagai kandidat pilpres, yakni ketua umum mereka, Airlangga Hartarto.
“Sehingga koalisi dengan Golkar tak akan cepat dapat membentuk sebuah kesepakatan, karena akan mempengaruhi posisi PKB dan Cak Imin dalam kandidasi pilpres, serta masih adanya pertimbangan untuk mencalonkan sendiri dan membangun kubu keempat,” kata
Di sisi lain, Aisah mengatakan bahwa masing-masing partai masih menunggu langkah dan strategi partai-kandidat pilpres lain.
Tak hanya itu, para parpol, dikatakan Aisah, juga menunggu momentum politik hingga menjelang pendaftaran dilakukan.
“Misalnya, kita ingat tentunya ketika Pilpres 2019 lalu saat Jokowi mengubah kandidat wapres di detik terakhir, karena pengaruh peta politik dan momentum saat itu,” ujar Aisah.
Diberitakan sebelumnya, Ketua DPP Partai Golkar, Nusron Wahid, menjelaskan soal dinamika seputar koalisi Pilpres 2024, khususnya di Partai Golkar sendiri.
Menurut Nusron, Ketua Umum Partai Gerindra akan sangat cocok jika diduetkan dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Ini Dua Hadiah yang Diterima Presiden Prabowo dari Tayyip Erdogan dan PM Malaysia, Belum Lapor KPK |
![]() |
---|
Hasan Nasbi: Presiden Prabowo Subianto Berkegiatan di Jakarta, Belum Ada Jadwal Keluar Kota |
![]() |
---|
Presiden Prabowo Disambut Wapres Gibran di Bandara, Indonesia Dapat Investasi Rp 294,80 Triliun |
![]() |
---|
Presiden Prabowo 'Pasiar' ke Rumah Jokowi di Solo, Makan Malam Bersama, Berbincang Hampir 1,5 Jam |
![]() |
---|
Prabowo Bakal Kunjungan Luar Negeri Perdana sebagai Presiden selama 16 Hari di Bulan November |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.