Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Prabowo Subianto

Prabowo Dinilai Sulit Raup Suara Jika Pasangannya Airlangga atau Cak Imin, Ini Kata Pengamat Politik

Pengamat Idil Akbar menilai sulit bagi Gerindra Prabowo Subianto mendulang suara jika dipasangkan dengan Muhaimin Iskandar maupun Airlangga Hartarto.

Editor: Tirza Ponto
Istimewa/Tribunnews.com
Pengamat Politik Universitas Padjajaran, Idil Akbar menilai sulit bagi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendulang suara yang signifikan jika dipasangkan dengan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin maupun Airlangga Hartarto. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sama seperti bakal calon Presiden lainnya, Prabowo Subianto hingga kini belum mengumumkan siapa pasangan calon wakil Presidennya dalam Pemilu 2024 mendatang.

Prabowo Subianto santer disebut memiliki peluang untuk berpasangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar maupun Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Padjajaran, Idil Akbar, menilai sulit bagi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendulang suara yang signifikan jika dipasangkan dengan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin maupun Airlangga Hartarto.

Adapun alasan Idil Akbar memberi penilaian tersebut karena kedua nama tersebut di sejumlah survei tidak punya persentase elektabilitas yang tinggi.

Gibran Rakabuming dan Prabowo Subianto.
Gibran Rakabuming dan Prabowo Subianto. (KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati)

Baca juga: Pengamat Ungkap Alasan Jokowi Lebih Memilih Prabowo, Usung Jargon Perubahan Jadi Kuda Hitam

"Dari beberapa nama calon wakil presiden yang paling banyak muncul kan justru Erick Thohir, Agus Harimurti Yudhoyono, Sandiaga Uno dan seterusnya," kata Idil saat dihubungi Tribunnews, Sabtu (30/5/2023).

Jika memang Prabowo memilih satu di antara dua nama tersebut, Idil meyakini bakal butuh kerja ekstra untuk setidaknya membuat Prabowo maju ke putaran kedua Pilpres, dengan catatan ada tiga capres yang bertanding.

"Saya tidak katakan Cak Imin atau Airlangga tak mampu, karena saya tahu mesin partai mereka cukup kuat dan luar bisa," kata dia.

Namun, Idil menambahkan, yang harus dilihat adalah ketika salah satu dari keduanya dipasangkan, apakah punya pengaruh atau sebaliknya.

"Ditambah lagi kalau memang Prabowo memilih Golkar, ini tentu bakal membawa dampak bagi PKB. Apakah PKB bakal tetap di koalisi dengan Gerindra atau tidak?" kata Idil.

"Kalau memang memilih PKB, dan Golkar sudah jelas memasang Airlangga sebagai capres lalu menurunkan egonya sebagai cawapres tapi yang dipilih PKB, ini tentu saja akan membawa preseden negatif buat Golkar. Makanya ini hitungannya akan cukup rumit bagi Prabowo dan Gerindra," pungkas Idil.

Diketahui, dinamika antara koalisi Gerindra, PKB, dan kini ditambah dengan manuver Golkar masih terjadi.

Teranyar, Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Presiden Partai Golkar, Nusron Wahid mengakui masih ada perbedaan pandangan antara sesama anggota Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

KIB sendiri beranggotakan Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Menurut Nusron, perbedaan itu terletak pada arah koalisi besarnya apakah bergabung dengan PDIP atau membuat poros alternatif bersama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).

"Golkar mengatakan untuk bangun koalisi bersama KKIR. Dengan narasi, kalau presiden dari KKIR maka wapresnya dari KIB," kata Nusron kepada wartawan, Jumat (26/5/2023).

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved