Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Berikut Daftar Barang yang Picu Inflasi Kota Manado Sulawesi Utara 0,75 Persen Pada Maret 2023

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, Asim Saputra menjelaskan, dengan adanya inflasi di Bulan Maret

Penulis: Alpen Martinus | Editor: Alpen Martinus
tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, Asim Saputra menjelaskan, dengan adanya inflasi di Bulan Maret, inflasi tahun kalender Sulawesi Utara sebesar 0,90 persen. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Inflasi masih terjadi di Kota Manado, meski persentasenya cukup kecil yaitu 0,75 persen.

Ada dua pemicu paling menonjol terjadinya inflasi di Kota Manado.

Sempat membuat warga termasuk pedagang mengeluhkan hal tersebut.

Baca juga: Dipicu Harga Beras dan Cabai, Kota Manado Mengalami Inflasi 0,75 Persen di Bulan Maret 2023

Harga beras dan cabe yang sempat melonjak tinggi, menjadi penyebabnya.

Meski tak terlalu lama terjadi, namun memang sangat berpengaruh.

namun sebenarnya ada juga barang lain, namun tak terlalu besar pengaruhnya.

Akibatnya, Kota Manado berada di urutan empat inflasi se Sulawesi.

Baca juga: Langkah Pemkab Minsel Berupaya Kendalikan Inflasi, Gelar Pasar Murah hingga Membuat Pos

Kota Manado mengalami inflasi 0,75 persen di Bulan Maret 2023.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, Asim Saputra menjelaskan, dengan adanya inflasi di Bulan Maret, inflasi tahun kalender Sulawesi Utara sebesar 0,90 persen.

"Sedangkan inflasi year on year (yoy) sebesar 5,20 persen," jelas Asim Saputra di kantornya, Senin (03/04/2023).

Asim Saputra menjelaskan, dari sebelas kelompok pengeluaran di Kota Manado, secara year on year (yoy) delapan kelompok pengeluaran mengalami peningkatan indeks.

Baca juga: Harga Cabai di Sulawesi Utara Naik, Pengamat Ekonomi Joy Tulung: Harus Kendalikan Inflasi

Kelompok itu yakni transportasi sebesar 17,50 persen; makanan, minuman dan tembakau 7,65 persen; perawatan pribadi dan jasa lainnya 4,59 persen; pakaian dan alas kaki 3,35 persen.

Selanjutnya, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,73 persen; kesehatan 0,80 persen; perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,69 persen dan penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,50 persen.

Dua kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: Rekreasi, Olahraga dan Budaya 1,20 persen dan informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,02 persen.

Sedangkan kelompok pendidikan cenderung stagnan.

Penyumbang inflasi terbesar secara year on year (yoy) pada Bulan Maret yaitu bahan bakar minyak (bensin) sebesar 0,9813 persen.

Sementara, khusus di Bulan Maret secara Month to Month (MtM), pendorong inflasi terbesar ialah beras.

Selain beras, ada cabai rawit, tiket pesawat, tomat, bawang putih, ayam hidup, kaos tanpa kerah, cabai merah, Cakalang fufu dan kue basah.

Terkait harga beras, Asim mengatakan, ini perlu jadi perhatian menyusul kondisi gagal panen di sejumlah wilayah di Indonesia.

"Dari sisi beras, ada pergeseran musim panen. Panen belum merata dan puncaknya di April dan Mei. Ketersediaan pasokan ini menjadi kunci," jelas Asim lagi.

Sedangkan komoditas penahan inflasi (deflasi) secara month to month (MtM), yakni bawang merah, parfum, Ikan Bobara, Cakalang, Ikan Tude, Daging Ayam Ras dan Ikan Tindarung.

Dilihat dari inflasi month to month (mtm) Kota Manado menempati urutan keempat inflasi di Pulau Sulawesi dan urutan ke-11 secara nasional.

Sedangkan secara year on year (yoy) Kota Manado menempati urutan ke-8 di Pulau Sulawesi dan urutan ke-54 secara nasional.

Dari 90 kota pantauan IHK nasional, inflasi year on year (yoy) tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 7,49 persen dan terendah terjadi di Kota Merauke sebesar 3,17 persen. (ndo)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved