Digital Activity
Wawancara Eksklusif dengan Wali Kota Bitung: Tuntaskan Program 5 Tahun dalam Waktu 3,5 Tahun
Beberapa waktu llau, Tribunnews berkesempatan mewawancarai Wali Kota Bitung. Berikut isi wawancara eksklusif bersama Maurits Mantiri.
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: Isvara Savitri
Pasar ikan kaleng di dunia disupply dari Kota Bitung yang paling besar, karena Bitung kota cakalang.
Selaim perikanan, ada hasil pertanian yaitu cengkeh dan pala. Sehingga ketika dalam hub internasional dari daerah luar seperti Maluku dan Papua pasti akan tergabung menjadi pangsa pasar terbesar untuk tiga komoditi perikanan, hasil pertanian, dan rempah-rempah.
Bicara itu akan leluasa, ketika mendapat support dari semua pihak.
Ketika menjadi pejabat di Kota Bitung, seluruh dunia termasuk Kota Bitung diperhadapkan dengan tiga masalah. COVID-19, penyakit mulut dan kuku, serta resesi global karena perang Rusia Ukraina. Nah, ketika dilantik jadi wali kota apa yang dialami? Pusing tidak memikirkan ini?
MM: Pemerintahan ini tidak pernah ‘terinteruksi’ walaupun ada ganggung dari mana saja, dari aspek ekonomi, sosial, aspek kesehatan. Namun pemerintahan harus jalan, dari pemerintahan ke pemerintahan siapapun dia pasti akan fokus tingkatkan kesejahteraan dan mencari jalan keluar atas persoalan.
Di Kota Bitung, kami menggunakan semua potensi yang diketahui tentang rakyat Kota Bitung. Seperti keberadaan seluruh tokoh agama di Kota Bitung. Masyarakat Kota Bitung masih menghormati tokoh agama, sehingga kebijakan Pemkot Bitung dilakukan melalui mereka.
Seperti pembagian sembako, bantuan–bantuan melalui tokoh agama karena ketika dilakukan oleh unsur pemerintah akan muncul tudingan pilih kasih. Persoalan pilih kasih kemudian menjadi hambatan dalam meyakinkan masyarakat, karena ketika tidak adil rakyat protes.
Ketika disalurkan lewat tokoh agama, didapati yang tidak menerima hanya dua orang yaitu ateis dan burung tahun (orang yang setahun sekali masuk rumah ibadah). Mereka tidak dikenal tokoh agama.
Dengan pola seperti itulah, penyaluran dan pemberian bantuan pemerintah ke masyarakat kurang diprotes, kemudian jumlahnya harus besar.
Misalkan sembako, ada 73 ribu kepala keluarga di Kota Bitung dibantu untuk 60 ribu kepala keluarga sehingga yang namanya pilih kasih tidak ada.
Kemudian meski kami dari warna tertentu, tidak boleh ada perspektif pemberian bantuan dilihat dari warna karena ketika jadi wali kota adalah wali kota untuk seluruh rakyat.
Kuncinya keseimbangan, rasa keadilan, dan kejujuran terhadap apa yang akan diberikan kepada masyarakat.
Waktu Kota Bitung dilanda COVID-19 terutama varian delta, apakah Pak Wali stres?
MM: Jangankan stres, kami juga kena. Kami sampaikan untuk tenang, tidak boleh gugup, dan jangan diviralkan karena akan jadi bahan cerita.
Pergi naik ambulans ke rumah sakit, sampai di sana ikuti prosedur semua. Di rawat di rumah sakit daerah di Kota Bitung, untuk meyakinkan penduduk, wali kota saja di rawat di rumah sakit daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Tribun-Podcast-bersama-Wali-Kota-Bitung.jpg)