Perjalanan Wisata
Menikmati Napomanu, Pulau Mangrove Berpasir Putih nan Eksotis di Likupang
Perjalanan wisata ke Napomanu terasa istimewa bagi siapa saja. Datang ke pulau tak berpenghuni ini mungkin sangat langka.
Penulis: maximus conterius | Editor: maximus conterius
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kami tiba di Pulau Napomanu sekitar pukul 4 sore. Cuaca cerah mengiringi perjalanan kami dengan perahu bermesin menyusuri Sungai Batu di Desa Sarawet, Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara.
Di perahu itu ada 17 orang, termasuk operator perahu Ramlan Tjaombah dan tiga pemandu dari Kelompok Pecinta Alam (KPA) Likupang. Sebagian besar mahasiswa jurusan arsitektur Universitas Negeri Manado (Unima).
Sekitar 20 menit kami menikmati perjalanan di perahu yang biasanya dipakai untuk melaut. Kami menyusuri sungai dengan pemandangan hutan mangrove di sisi kiri dan kanan. Tak banyak sampah, satu hal positif di mata wisatawan.
Yudith Rondonuwu, personel KPA Likupang yang menemani perjalanan kami mengatakan, ia dan kawan-kawannya selalu mengedukasi warga untuk tidak membuang sampah di sungai. Beberapa waktu lalu mereka juga memungut sampah di kawasan hutan mangrove itu.
Jarang ada perjalanan wisata menyusuri sungai di antara hutan mangrove.
Rasanya tak bosan mengabadikan diri di atas perahu dengan pesona hijau di sekeliling disertai birunya langit dan hangatnya mentari. Apalagi tak ada ombak yang harus dikhawatirkan saat berdiri di perahu sembari difoto.
Kira-kira lebih 10 menit perahu sudah sampai di muara sungai dan memasuki perairan Likupang. Kami bisa melihat Pulau Gangga, Lihaga dan Bangka. Sementara tujuan kami Pulau Napomanu ada di depan mata.
Perlahan Ramlan Tjaombah melambatkan perahu. Allan Rondonuwu, personel KPA Likupang yang juga menjadi pemandu kami, bersiap mencapai tepi dermaga terbuat dari bambu. Setelah perahu dalam posisi sandar, satu per satu kami naik ke dermaga bambu itu.
Rasanya asyik. Menyusuri dermaga dan jembatan bambu yang diikatkan pada pohon-pohon bakau bagai merasakan suasana perkampungan nelayan.
Namun di Napomanu tidak ada penduduk. Pulau ini hanya dipenuhi pohon-pohon bakau dengan daratan yang terbatas.
Di daratan pulau ini tersedia sabua mini. Juga terbuat dari bambu. Meski begitu, masih terasa lapang untuk kami belasan orang.
Pengunjung bisa bersantai di sabua atau juga duduk di batang pohon bakau. Atau juga bermain dengan ombak-ombak kecil yang menyapu. Bagi yang ingin bermain pasir atau berbaring menikmati sapuan ombak, silakan saja.
Jika pengunjung ingin berjemur layaknya bule, bisa merasakannya di dermaga bambu. Soalnya, cahaya mentari tidak terasa terik bila berada di dalam pulau yang sebagian besar terlindung pohon-pohon bakau.
Meski pulau kecil ini hanya dipenuhi bakau, signal telepon sangat kuat. Jadi pengunjung bisa mengabadikan momen dan membagikannya di media sosial atau membuat siaran langsung.
Kata Allan, mengunjungi Napomanu sebaiknya sebelum siang agar bisa berlama-lama menikmati pulau kecil itu. Selain itu, air masih kondisi surut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pulau-napomanu-likupang-minahasa-utara2.jpg)