Paskah 2022
Pesan Paskah PGI 2022: Tak Terpisahkan dari Kasih Allah
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan pesan Paskah tahun 2022 untuk umat Nasrani di Nusantara.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Chintya Rantung
Dalam kenyataan kehidupan demikian, Firman Allah menjanjikan,
tidak ada kesulitan dan penderitaan apa pun yang sanggup merampas kasih Allah dari kita, dan tidak ada apa pun di dalam dunia ciptaan ini yang sanggup merampas kita dari kasih Allah.
Umat Kristiani yang terkasih, ada sedikitnya dua hal yang dapat kita refleksikan dalam perayaan Paskah tahun ini.
Pertama, apa pun kesulitan dan beban berat yang kita pikul pada saat ini, kasih Allah yang telah dinyatakan kepada kita melalui kematian dan kebangkitan Kristus selalu beserta
kita.
Kristus telah bangkit dan mengalahkan maut. Kita yang berada di dalam Kristus, mengalami
kasih Allah yang dicurahkan kepada kita.
Kasih Allah inilah yang memegang kita erat-erat. Kemenangan-Nya atas maut memberi kita jaminan bahwa tidak ada ancaman dan kesusahan seberat apa pun yang dapat mengalahkan Allah dan yang dapat mengambil kasih Allah yang telah Dia
curahkan kepada kita.
Terkadang kita merasa lemah dan bahkan gemetar karena berbagai goncangan: pandemi yang tidak
berkesudahan, badai Seroja dan bencana alam lainnya, bahkan goncangan iman kita.
Kita sering merasa tidak cukup kuat untuk memegang Allah.
Namun, janji Allah kepada kita adalah bahwa Dia cukup kuat untuk memegang kita dalam situasi apa pun (Yoh. 10:29). Sekalipun kita “dibunuh sepanjang hari”, kita akan hidup dan berada dalam kasih-Nya karena Kristus yang bangkit itu ada di dalam diri kita.
Kasih Allah yang akan mengiringi langkah kita untuk terus maju dan membangun setiap reruntuhan itu.
Kedua, kasih Allah di dalam Yesus Kristus adalah kenyataan yang paling berharga.
Dengan memilikinya, kita bisa merasa cukup, bersyukur, dan berbahagia, sekalipun banyak hal yang
terambil dari kita.
Banyak orang yang lebih memilih terpisah dari kasih Allah asalkan tetap terikat dengan kenyamanan dunia ini.
Bagi mereka, kasih Allah di dalam Yesus Kristus kurang berharga
dibandingkan dengan, misalnya, kepemilikan harta benda.
“Apa gunanya memiliki kasih Allah
kalau kita harus hidup dalam kekurangan atau bahkan dalam penderitaan?” Kira-kira demikianlah
pemikiran mereka.
Memang, hanya orang-orang yang telah mendisiplinkan diri dalam kehidupan sederhanalah yang dapat dengan yakin mengatakan, “Tak terpisahkan dari kasih Allah adalah
kenyataan yang cukup bagiku.”