Opini

Mewaspadai 'Penumpang Gelap' Pariwisata dan The Exercise Of Immigration Control

Oleh: Romel Krismanto Malensang, S.IP,M.A. (Analis Keimigrasian Pertama Kantor Imigrasi Kelas I TPI Manado)

Editor: Finneke Wolajan
HO
Romel Krismanto Malensang, S.IP,M.A. (Analis Keimigrasian Pertama Kantor Imigrasi Kelas I TPI Manado) 

Oleh: Romel Krismanto Malensang, S.IP,M.A.

(Analis Keimigrasian Pertama Kantor Imigrasi Kelas I TPI Manado)

Angin segar bagi sektor pariwisata Indonesia dikala pemerintah tengah melakukan relaksasi pintu masuk ke wilayah Indonesia di sejumlah bandara dan pelabuhan internasional.

Melalui skema pemberian Bebas Visa Kunjungan (BVK) dan Visa on Arrival (VOA) khusus wisata, diharapkan terjadi penambahan jumlah kunjungan turis mancanegara.

Dalam konteks keimigrasian, kebijakan ini adalah perwujudan fungsi keimigrasian sebagai fasilitator pembangunan serta dukungan terhadap sektor pariwisata dengan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado ditetapkan satu di antara lima bandara di Indonesia yang menetapkan bebas Visa On Arrival (VOA) mulai Rabu (06/04/2022).
Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado ditetapkan satu di antara lima bandara di Indonesia yang menetapkan bebas Visa On Arrival (VOA) mulai Rabu (06/04/2022). (Tribun Manado/Fernando Lumowa)

Momentum ini harus dimaknai sebagai upaya kebangkitan (kembali) pariwisata Indonesia.

Namun, disaat yang bersamaan ada ancaman yang mesti diwaspadai atas kebijakan kemudahan keimigrasian tersebut.

Kewajiban memiliki visa sebagaimana diwajibkan dalam ketentuan sebelumnya dihilangkan, sekaligus meniadakan “first layer”

pengawasan administratif keimigrasian. Sehingga ancaman-ancaman keamanan yang berpotensi membonceng kebijakan kemudahan keimigrasian, lebih berpeluang terjadi.

Sebut saja potensi kejahatan lintas negara seperti terorisme, migrasi ilegal, narkotika, kejahatan siber serta potensi meningkatnya wabah COVID-19 akibat penetrasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) secara masif tanpa protokol kesehatan yang ketat.

Di sinilah fungsi imigrasi lainnya berperan yakni penegakan hukum dan keamanan negara sebagai the exercise of immigration control.

Dukungan Imigrasi terhadap Pariwisata Indonesia

Mengutip “Buku Tren Pariwisata 2021” yang diterbitkan Kemenparekraf, bahwa sejak Februari 2020 jumlah kunjungan turis mancanegara mengalami penurunan yang sangat drastis akibat COVID-19. Data kunjungan terendah terjadi pada April 2020 yaitu dengan jumlah wisman hanya 158 ribu.

Total sepanjang tahun 2020 hanya ada 4,052 juta wisman atau hanya sekitar 25 persen dari jumlah wisman yang masuk Indonesia pada tahun 2019.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved