Tajuk Tamu Tribun Manado

Quo Vadis Rumampen, Nilai Juang Egaliter nan Seimbang Warisan Leluhur Minahasa?

Singkat kata, tarumeimpen ini berasal dari kisah tentang bagaimana orang Minahasa bersatu secara egaliter.

Dokumentasi Tribun Manado
Situs Watu Pinawetengan di Desa Pinabetengan, Tompaso, Minahasa, diyakini sebagai tempat leluhur Minahasa membagi wilayah. 

Oleh:
Stefi Rengkuan

Anggota Presidium Ikatan Sarjana Katolik (Iska)
Wakil Bendahara Perhimpunan Intelektual Kawanua Global (PIKG)
Anggota Pengurus Pusat Ikatan Alumni STFSP

TRIBUNMANADO.CO.ID - MPA IX Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) pimpinan Angelica Tengker telah berlangsung lancar aman secara hybrid, yakni offline dan online, di masa masih pandemi berlaku, demikian dilaporkan ketua panitia, Michael Lakat. Dibuka pukul 10.00 dan ditutup 16.30, dan dalam sidang Majelis Perwakilan Anggota dipimpin Mayjen Ivan Pelealu telah terpilih kembali Angelica Tengker sebagai Ketua Umum periode 2022-2027.

Dalam rangkaian acara sepanjang hari Sabtu, 2 April 2022, jelang ibadah puasa Ramadan ini telah diisi pelbagai acara, mulai dari prosesi adat, kata sambutan dan selingan puisi, lagu, dan musik instrumentalia juga pemaparan makalah-makalah. Sebelum memasuki acara inti 'musyawarah perwakilan anggota' semua pemegang hak suara itu sendiri yang menghasilkan pelbagai poin pemahaman dan kesadaran, rekomendasi dan keputusan.

Berikut ini presentasi budaya yang menghantar peserta untuk memahami dan menyegarkan kembali nilai dan identitas leluhur Minahasa, yang dipresentasikan oleh Dr Benni E Matindas, dan dimoderatori Dr Jerry Logahan, Ketua Litbang KKK, sejauh ditangkap secara live selama pemaparan sekitar kurang lebih 25 menit, dan dengan penafisiran dan pengembangan penulis sendiri.

1. Pembicara membuka makalah dengan mengajak kita melepaskan persepsi keliru dan rancu saat memikirkan apa itu budaya Minahasa. Antara budaya kekinian dengan sistem nilai masa lalu. Apa-apa yang pernah diyakini, dirayakan, dan dihidupi orang Minahasa masa lalu itu dalam hal sistem nilai bahkan peradabannya mesti relatif jelas terlebih dulu untuk bisa memahami apa yang ada sekarang. Singkatnya, kompetensi memahami budaya Minahasa mesti diletakkan pada bingkai perbandingan yang beorientasi ruang dan waktu.

2. Intelektual kawakan ini mulai pemaparan makalahnya dengan contoh konkret untuk menarik fokus perhatian apa yang pernah terjadi di masa lalu orang Minahasa. Dia mulai dari perpustakaan Vatikan dengan sebuah buku kisah perjalanan perintis misionaris awal yang menjelaskan tentang masakan Minahasa yang sudah exciting pada zaman itu. Jauh sebelum kolonialisme, minimal sekitar 1.500 tahun lalu orang Minahasa sudah punya masakan yang begitu kaya bumbu. Karena itu Benni pernah bilang bahwa Indonesia tak heran dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa karena rempah-rempah itu yang mulai dikenal dan harganya sangat mahal di sana waktu itu.

3. Benni mengajak untuk kembali membandingkan fakta Minahasa ini dengan fakta Jerman (negara kuat dan maju sekarang di Eropa) yang pada tahun 600 masih barbar. Juga membandingkan dengan etnis di Nusantara, misalnya di bagian utara Sumatera. Sejarawan juga mencatat bahwa sudah di abad 20 awal kelompok tertentu di Batak itu masih makan orang. Peneliti sebelumnya menegaskan bahwa kebiasaan itu terpengaruh oleh salah satu sekte agama Buddha demi alasan ritual, tapi kemudian dibuktikan ternyata makan karena kebutuhan akan gizi.

Nah, pada zaman dulu Minahasa hal makan sudah sampai pada level seni bukan lagi kebutuhan primer semata. Secara alamiah selera orang Minahasa dalam hal bumbu masakan memang masih bisa dilihat dari cara masak dan makannya. Diangkat contoh di Kakas, desa pinggir Danau Tondano, nama ikan kabos atau pior atau gabus itu sampai mempunyai 7 jenis penamaan dan terkait cara memasak, bukan taksonomi biologi ikan itu sendiri.

Walau ada adagium Romawi kuno ‘de gustibus non disputandum est’, soal rasa tak bisa diperdebatkan, namun fakta beragam penamaan nama jenis masakan ini menunjukkan tingkat kecerdasan mengolah bahan makanan dengan citarasa yang tinggi.

4. Pembandingan lain dengan menyebut contoh tentang perubahan kata kerja dalam bahasa Minahasa yang terhitung paling sofistikatif di dunia saking banyaknya. Bahasa Inggris yang hanya memiliki 9 perubahan kata kerja, dan itupun dibantu adanya irregular verbs. Lalu bahasa Yunani cuma punya 15 bentuk perubahan kata kerja.

Saking banyaknya, budayawan Remy Silado dan Benni Matindas pernah menghitungnya. Remy menyebut 22, dan Benni menemukan sampai 26 perubahan kata kerja itu. Kalau bahasa adalah penunjuk peradaban sebuah bangsa, maka bisa dibayangkan seberapa tinggi peradaban yang pernah dicapai orang Minahasa.

5. Apa penyebab adanya pencapaian peradaban di Minahasa sebegitu tingginya di Nusantara bahkan dunia, Benni menyebut faktor utama adalah letak geografi alam Minahasa yang ada dalam pertemuan angin muson, yang membuatnya begitu subur, dan menjadi tempat hampir semua jenis hewan, tapi ada banyak yang sudah punah, salah satunya karena dikonsumsi masyarakatnya. Konsumsi makanan melalui proses mengolah yang bercitarasa tinggi dan beragam ini kiranya melahirkan manusia-manusia yang kreatif atas kenyataan hidup individu dan sosialnya, alam dan kekuatan transendentalnya.

6. Kalau idealitas nilai orang Minahasa demikian tinggi, mengapa masih ada bahkan marak fenomena "budaya" baku cungkel (saling menjatuhkan)?

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved