Tajuk Tamu Tribun Manado

Quo Vadis Rumampen, Nilai Juang Egaliter nan Seimbang Warisan Leluhur Minahasa?

Singkat kata, tarumeimpen ini berasal dari kisah tentang bagaimana orang Minahasa bersatu secara egaliter.

Dokumentasi Tribun Manado
Situs Watu Pinawetengan di Desa Pinabetengan, Tompaso, Minahasa, diyakini sebagai tempat leluhur Minahasa membagi wilayah. 

Ambil dari sejarah perang Tondano, misalnya. Pada saat orang Tondano sudah sudah sangat membenci orang Belanda sejak 1699 dan memuncak lalu pecah perang tahun 1800 dengan penguasa Belanda. Hanya karena mereka mengeluarkan ordinansi pelarangan hukum toktoken yang dianggap tidak etis di beberapa walak Minahasa.

Hukum 'toktoken' ini yakni mencincang para pengkhianat oleh orang Belanda dinilai tidak manusiawi, (dari perspektif nilai Eropa, katakanlah secara rohaniah Kristen). Orang Tondano dan para kepala walak waktu itu marah karena pelarangan itu dianggap mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Jadi, sebenarnya perang besar itu tidak akan terjadi kalau tidak dibenturkan, katakan saja antara urusan rohaniah dan duniawiah itu!

Juga dari fakta sejarah ini hendak digarisbawahi adalah mengapa sifat pengkhianat itu merupakan kebencian eksistensial bagi orang Minahasa. Soal caranya hukuman diberlakukan itu adalah bungkusnya saja, yang sekarang tentu sudah ditinggalkan, menunjukkan nilai yang diyakini, dirayakan secara ritual, dan berusaha dihidupi dalam kehidupan bermasyarakat.

14. Itulah pengertiannya, bahwa apapun juga ke arah itulah orang Minahasa mesti berperistiwa dan berproses bila ingin mengembalikan jatidirinya. Benni tak lupa juga berusaha mengaitkan inti pembicaraannya dengan pembicara sebelumnya, Dr Hartono (mewakili Dirjen Kesbangpol Kemendagri) yang berbicara antara lain tentang proses ekonomi yang menyadarkan orang Indonesia akan kekuatan-kekuatan raksasa penggerak dan pengeruk di balik itu. Kalau ekonomi adalah upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah seputarnya, maka untuk memenuhi kebutuhan itu orang Minahasa menjadi sangat kreatif apabila dikembalikan semua kepada nilai-nilai luhur itu.

15. Berproses untuk memenuhi segala kebutuhan dan menyikapi segala permasalahan kehidupan dengan semangat yang jujur dan adil, dalam pengertian luas dan sempitnya. Semuanya soal ukuran yang didiberlakukan pada tempat dan situasinya masing-masing.

Pengertian kosa kata di atas dan penjelasan penerapannya di atas makin dipertegas juga oleh pengertian lain tentang kata rumampen itu: "membuat sesuatu sampai ke akar atau dasarnya". Ini jelas sebuah eksistensialisme hidup ala Minahasa yang bernada metafisik, yang mengajak manusia untuk terus bergerak bahkan sampai ke dasar-dasar yang sekaligus mendorong manusia melejit sampai ke ujung manapun.

Back to basic, kembali ke dasar. Ini hanya mungkin dan menjadi bermakna dalam bingkai dan orientasi nilai yang lebih tinggi sambil tetap berpijak dalam kenyataan kehidupan yang sudah dan terus berjalan ini sampai akhir dunia.

Sayang sekali bila warisan nilai peradaban tinggi ini tinggal menjadi tinggal kenangan saja di masa lalu. Mati tergantikan oleh kecenderungan egoistik tak teratur dan menyesatkan diri dan umat manusia di jalan kehidupan.

Praksis ber-Minahasa ada dalam usaha dinamis untuk terus menyeimbangkan tegangan antara nilai-nilai normatif dengan pelaksanaan nyata di lapangan. Hidup mesti terus bergerak ke depan, apapun kenyataannya, supaya keseimbangan serta tentunya kemajuan selalu terjadi. (*)

Baca juga: Survei Indikator: TNI Jadi Institusi dengan Tingkat Kepercayaan Publik Paling Tinggi

Baca juga: Jadi Pesakitan dan Merasa Dikorbankan, Angelina Sondakh: Korupsi Enggak Mungkin Single Fighter

Baca juga: Sosok Arief Rosyid yang Palsukan Tanda Tangan Jusuf Kalla, Punya Jabatan Komisaris di BSI

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved