Tajuk Tamu Tribun Manado

Quo Vadis Rumampen, Nilai Juang Egaliter nan Seimbang Warisan Leluhur Minahasa?

Singkat kata, tarumeimpen ini berasal dari kisah tentang bagaimana orang Minahasa bersatu secara egaliter.

Dokumentasi Tribun Manado
Situs Watu Pinawetengan di Desa Pinabetengan, Tompaso, Minahasa, diyakini sebagai tempat leluhur Minahasa membagi wilayah. 

Menjawab ini Benni mulai menyebut contoh faktual, antara lain organisasi yang selalu cenderung pecah bahkan beberapa. Benni menyebut sebuah organisasi tua di Manado yang pecah menjadi 7 organisasi. Disinggung juga KKK itu pecah, walau cuma dua, dengan insinuasi bahwa bukan tidak mungkin ke depan pecah sampai 7, sampai orang merasa puas atau bosan sendiri!

7. Akan tetapi semangat persatuan itu demikian tinggi, sudah ada dari dulu, sebagaimana dikisahkan ringkas oleh Max Rorimpandey dalam pemaparan sebelumya. Kisah awal mula terbentuknya KKK membuktikan semangat itu memang ada dalam darah dan naluri alamiah orang Minahasa. Dalam sejarah Indonesia dikisahkan juga bahwa organisasi terbesar kedua sesudah Syarikat Islam adalah Perserikatan Minahasa.

8. Kembali lagi apa penyebab suatu perpecahan dalam organisasi di antara orang Minahasa sendiri. Salah satu jawaban, mengutip kata sambutan Ketum KKK Angelica Tengker, bahwa pikiran menyempal, berpisah bahkan mengkhianati organisasi sebelumnya itu terjadi karena ideal-ideal yang belum tercapai.

9. Benni memperdalam pembahasan dengan membuat kategori persatuan itu dalam 4 jenisnya yang berlaku di dunia.

I. Persatuan aksidental atau eventual. Suatu persatuan kerumunan, terjadi saat peristiwa tertentu dengan berkumpul. Fenomena dan fakta ini di Minahasa bisa disebut pakasaan (dianterokan, disatukalikan), misalnya saat walak Tondano membuat acara, maka ada orang yang mengusulkan supaya sekalian saja dengan rukun Atep. Akan tetapi, kata pakasaan tidak dikenal sebagai sebuah sistim nilai budaya Minahasa karena sifatnya yang insidental. (Periksa buku Ben Palar) Persatuan jenis ini paling rendah tingkat kohesinya dan sifatnya eventual.

II. Persatuan kontraktual atau Gesellschaft. Istilah dari sosiolog Jerman untuk melukiskan organisasi berdasarkan kehendak rasional dan kesadaran tertentu. Di Minahasa misalnya ada yang disebut pinaesaan, minaesaan, mahesaan, dll.

III. Persatuan komunal atau organikal. Hampir mirip di atas, namun lebih dalam lagi. Ibaratnya daun lepas dari rantingnya tidak ada artinya lagi, daun akan kering dan mati. Ketika terlepas dari hal berkomunitas, bahkan dalam hal hukuman berarti lepas dari ikatan batin dan justru mati. Dalam bahasa Minahasa ada fam rampengan, atau lebih pas kita pakai kata rumempeng atau marempeng (ingat pisang susu sering ada yang marempengan), artinya saling menyatu secara alamiah dan begitu terlepas tiada arti lagi.

IV. Persatuan eksistensial. Bersatu berdasarkan naluri, seperti zoon politicon Aristoteles, tapi diramu dengan keputusan rasional, digabung dengan kebebasan dan hal-hal eksistensial. Dan di Minahasa itulah yang disebut rumampen.

10. Menurut peneliti yang sudah menjalani ketertarikan dan meneliti budaya Minahasa sejak masih muda ini, persatuan paling ideal rumampen ini sudah diterapkan nenek moyang Minahasa. Sebagai kata kerja 'rumampen' berarti "bersatu secara egaliter", dan menurunkan kata 'rampen' atau lebih tepat ra'ampen, juga tarumampen. Rampen sudah diartikan "rata". Begitu juga rumampen, ada kamus mengartikan "memotong pohon sampai di akar rata tanah". Dalam perkembangan kemudian ketika menjadi fungsi sosial untuk orang-orang tertentu misalnya ada petugas ukur dengan kualifikasi tertentu, nama itu diartikan sebagai fam.

Dalam Tontemboansche Texten, karya besar Schwarz, yang sudah disalin dalam bahasa Indonesia juga oleh Yayasan yang dipimpin Dr Benny Mamoto, kosakata ini: rampen, rumampen, tarumeimpen hanya ditulis, tapi tak dijelaskan sebagaimana entri yang lain, tanda tak bisa dilacak karena tidak mampu mengerti akar budaya lagi.

11. Pada zaman itu belum ada pembakuan kata, lanjut Benni, maka diyakini sebenarnya kata tarumampen atau tepatnya tarumeimpen lebih dekat dengan nama Opo yang bersemayam di ujung dahan untuk menggambarkan orang ini sangat seimbang, adil dan tegas.

Singkat kata, tarumeimpen ini berasal dari kisah tentang bagaimana orang Minahasa bersatu secara egaliter. Maka Benni setuju dengan Remy yang mengatakan ciri egaliter di Minahasa dan terungkap dalam istilah yang dipakai. Misalnya Remy menyebut sampai hubungan seksual yang begitu intim pria wanita dewasa itu disebut bakucuki atau mawe'an, saling memberi dengan bebas dan mandiri. Bila dibandingkan beberapa bahasa budaya lain yang mengesankan hubungan intim justru menjadi sangat sepihak partiarkal, misalnya dalam istilah menggagahi, membuahi, dll.

(Pada akhirnya, karena waktu terbatas, maka pembicara langsung mengambil kesimpulan dan rekomendasi.)

12. Adalah panggilan kesejarahan kita bersama orang Minahasa untuk mewujudkan rumampen, dengan selalu melihat kenyataan itu sendiri. Misalnya orang saleh tidak boleh jadi pemimpin. Apa maksudnya? Bisa jadi, lepas dari konteks perpecahan organisasi orang Minahasa yang salah satunya melibatkan para pemimpin rohani, baik tertahbis maupun tidak, Benni hanya mengajak kita melihat dan belajar dari kenyataan yang sudah terjadi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved