Sejarah Indonesia

Serangan 1 Maret di Yogyakarta: Soeharto Asyik Makan Soto saat Prajuritnya Berperang Lawan Belanda

Serangan Umum 1 Maret 1949. Soeharto yang disebut asyik makan soto saat anak buahnya bertempur melawan Belanda.

Editor: Frandi Piring
Kompas.com/Ferganata I Riatmoko
Serangan 1 Maret di Yogyakarta 1949. Soeharto Makan Soto saat Prajuritnya Berperang Lawan Belanda 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tepat 72 tahun pada hari ini, Serangan Umum 1 Maret 1949 terjadi di Yogyakarta.

Serangan tersebut sebagai respons TNI setelah Ibukota Yogyakarta diduduki Belanda lewat operasi Agresi Militer Belanda II.

Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 mampu membuka pandangan dunia Internasional bahwa eksistensi Indonesia masih kuat.

Selain itu, Indonesia juga diuntungkan dengan kecaman dunia internasional terhadap peristiwa Agresi Militer Belanda II.

Siapa inisiator Serangan Umum 1 Maret 1949?


(Serangan 1 Maret di Yogyakarta 1949. Soeharto Makan Soto saat Prajuritnya Berperang Lawan Belanda. Foto Letkol Soeharto sebagai komandan WK III Yogyakarta mngadakan perlawanan gerilya terhadap Belanda di Yogyakarta dari Desember 1948 hingga Juni 1949. (IPPHOS)

Selama pemerintahan Orde Baru, Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi salah satu peristiwa sejarah yang menempatkan Soeharto sebagai sosok sentral.

Dalam otobiografinya, Soeharto menyebutkan bahwa ia menggagas serangan ini setelah mendengar siaran radio perihal pernyataan Belanda bahwa TNI sudah tidak eksis.

Beberapa pihak menunjukkan keraguan atas legitimasi peran Soeharto tersebut.

Dikutip dari Kompas.id, Hutagalung dalam buku Serangan Umum 1 Maret 1949 memaparkan keraguannya sebab posisi Soeharto yang berpangkat letkol kala itu adalah komando wilayah pertahanan (wehrkreise) III.

Wilayah pertahanan tersebut berada di bawah pimpinan Bambang Soegeng sebagai Komandan Divisi Ill yang mengatasi brigade pimpinan Soeharto.

Hipotesisnya, Soeharto bukanlah inisiator serangan umum melainkan menjadi bagian dari serangan ini dengan komando dari atasannya, Kolonel Bambang Sugeng.

Sementara itu, klaim Belanda di dunia internasional melalui siaran radio bahwa TNI sudah tidak eksis tak hanya didengar oleh Soeharto,

melainkan juga Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal Sudirman, serta beberapa tokoh lain. Oleh karena itu, klaim Soeharto kemudian diragukan.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved