OPINI

OPINI - Harmoni dengan ''Toa'' Agamis

Baru-baru ini viral di masyarakat tentang beredarnya Surat Edaran Menteri Agama RI tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala

Editor: Aswin_Lumintang
Istimewa
Dr Ahmad Rajafi Sahran 

Dr Ahmad Rajafi, M.H.I

Kabid Agama Ekonomi Sosial dan Budaya FKPT Provinsi Sulawesi Utara

BARU-baru ini viral di masyarakat tentang beredarnya Surat Edaran Menteri Agama RI tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala, serta statemen Menteri Agama ketika ditanya oleh awak media tentang edaran tersebut yang dianggap beberapa orang sebagai bentuk penistaan atas Islam karena membandingkan antara suara azan dengan suara anjing.

Menanggapi tentang viral yang pertama, umat Islam di Indonesia harus mengapresiasi edaran tersebut, karena edaran sebagai sebuah naskah hukum dibutuhkan untuk kepentingan mengahadirkan kemaslahatan dan menutup segala bentuk kemudharatan (jalb al-mashalih wa dar’u al-mafasid), khususnya berkenaan dengan pengelolaan pengeras suara di tempat ibadah yang terkadang digunakan tidak hanya untuk kepentingan ibadah.

Pada hakikatnya, edaran ini sudah sangat tertinggal dari negara-negara maju lainnya, bahkan di negara-negara tersebut dengan tegas mengeluarakan regulasi pengikat yang menegaskan tentang punishment jika melanggar aturan tersebut. Tapi di Indonesia, nilai-nilai kearifan masih sangat dikedepankan, oleh karena penggunaan pengeras suara adalah jalan syiar yang berlaku sejak lama, maka Negara melalui Kementerian Agama RI hanya menegaskan tentang bagaimana menggunakan pengeras suara yang baik demi kekhusyu’an suatu ibadah.

Menanggapi viral yang kedua, umat Islam di Indonesia yang memiliki ragam adat dan budaya serta kemapaman edukasi, wajib untuk memiliki kecakapan dalam menelaah sebuah kata maupun kalimat. Pelajaran besar dari para pendahulu yang terpelajar, bahwa seseorang tidak boleh mengambil kesimpulan hanya dalam satu kali membaca, karena semakin sering dibaca suatu bacaan (muthala’ah), maka akan menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam, karena pada saat itu, selain membaca, ia pula memulai untuk menambahkan argumentasi (al-syarh) atau bahkan mengkritik (al-naqdu) atas bacaan tersebut.

Begitu juga dengan ungkapan seseorang (saat ini lebih banyak dilihat di youtube) yang tidak boleh secara serampangan diambil kesimpulan tanpa menyaksikan secara berulang seluruh isi pembicaraan. Seperti dalam konteks video Menteri Agama, sungguh tidak didapatkan bahwa Menteri Agama tengah membandingkan antara suara azan dengan suara anjing, ungkapan ini adalah persepsi yang menyimpang dari alur pembicaraan yang telah disampaikan, karena Menteri Agama secara eksplisit menegaskan tentang pentingnya mengatur pengelolaan suara melalui pengeras suara (Toa), dan suara anjing adalah contoh dari suara-suara yang seringkali membuat bising di telinga.

Tidak bisa dinampikkan, bahwa ada banyak suara-suara yang sering kali keluar dari pengeras suara tempat ibadah, bukan sekedar suara azan, maka dengan diatur secara baik pengelolaannya, maka marwah rumah ibadah juga senantiasa terjaga. Untuk itu, seorang pendengar atau penonton wajib memahami betul isi pembicaraan.

Jika ditinjau dari segi telaah kitab kuning (bahts al-kutub) dengan ilmu gramatikal bahasa Arab (‘ilm al-nahwi wa al-sharf), seseorang harus mampu memahami dengan baik mana yang na’at dan mana yang man’ut, mana yang mudhaf dan mana yang mudhaf ilaihi, keberadaan dhamir untuk menjelaskan sisi yang mana, dan lain sebagainya. Salah dalam menentukan status hukum suatu bacaan, maka berdampak kesalahan yang fatal pula dalam mengambil kesimpulan.

Pembaca, penonton, penyimak yang baik adalah, mereka yang senantiasa menggunakan hatinya sebagai penyaring data (filter) yang masuk dari mata atau telinga yang ditransfer ke otak. Hati yang mumpuni akan mewujudkan harmoni, hati yang tulus akan melahirkan kebaikan dan pahala yang surplus, namun bila hati pendengki yang memfilter, maka hanya akan berdampak sakit hati, bila sudah sakit hati maka sikapnya akan anarki dan terus mencaci, lalu meninggalkan rasa benci hinggga akhir hayatnya menghampiri.

Pada akhirnya, kami mengajak untuk senantiasa menciptakan hormani dengan penggunaan “toa” agamis yang ditempatkan di rumah-rumah ibadah secara bijak, seperti yang telah dituangkan di dalam Surat Edaran Menteri Agama RI tersebut. Jauhkan persepsi negatif, dan bangun nilai-nilai religi, baik oleh pribadi maupun komuniti, kapanpun dan dimanapun kita berada. Salam Harmoni.

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved