Tajuk Tamu Tribun Manado
Perempuan Sulawesi Utara Hebat!
Memang tidak diragukan lagi hebatnya perempuan-perempuan Sulawesi Utara dari dulu hingga kini.
Oleh:
Ayu Puspita Wulandana B
Fungsional Statistisi Pertama BPS Provinsi Sulawesi Utara
KETERLIBATAN figur perempuan dalam memperjuangkan pembangunan telah berlangsung sejak dahulu di Bumi Nyiur Melambai, Provinsi Sulawesi Utara.
Maria Josephine Catherine Maramis atau Maria Walanda Maramis, siapa yang tidak kenal beliau? Salah seorang Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara.
Beliau adalah Kartini dari Minahasa yang memperjuangkan kemajuan dan emansipasi perempuan di Sulawesi Utara sejak akhir abad ke-19.
Selain itu, dari dunia kedokteran, ada juga perempuan Sulawesi Utara yang menjadi dokter perempuan pertama di Indonesia yaitu Marie Thomas.
Beliau juga dokter pertama yang memperkenalkan metode kontrasepsi, seperti UID kepada wanita dan ibu di seluruh Nusantara.
Ia terkenal karena kemurahan hatinya dalam memberikan bantuan kepada setiap pasiennya, bahkan dari kalangan tidak mampu ia akan memberikan pelayanannya secara gratis.
Hingga saat ini, gaung kemajuan dan keterlibatan figur perempuan di Sulawesi Utara pun masih lantang terdengar.
Mulai dari pemerintahan (birokrat), politisi, dan beberapa bidang lain menampilkan figur perempuan Sulawesi Utara yang hebat.
Baru-baru ini, figur perempuan Sulawesi Utara yang membawa harum nama Bangsa Indonesia yaitu Greysia Polii.
Dia perempuan Sulawesi Utara yang menunjukkan bakatnya hingga kancah internasional dalam ajang bergengsi Olympiade Tokyo 2020.
Ia berhasil menyumbangkan medali emas dalam cabang olahraga bulu tangkis ganda putri.
Memang tidak diragukan lagi hebatnya perempuan-perempuan Sulawesi Utara dari dulu hingga sekarang.
Keterlibatan perempuan Sulawesi Utara dalam berbagai bidang menunjukkan bukti bahwa perempuan di Sulawesi Utara telah mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan pembangunan di berbagai bidang.
Hal ini sejalan dengan poin kelima pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu “Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Semua Perempuan dan Anak Perempuan”.
Tujuan ini memberikan kita gambaran bahwa figur laki-laki tidak melulu harus berada di baris terdepan dalam peningkatan pembangunan, tetapi keterlibatan figur perempuan juga dapat menjadi penentu kemajuan pembangunan di Sulawesi Utara.
Evaluasi hasil pembangunan yang berdasarkan pada keterlibatan laki-laki dan perempuan dapat dilihat melalui beberapa indikator diantaranya Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG).
IPG adalah indikator yang menggambarkan perbandingan antara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) perempuan dan IPM laki-laki melalui pendekatan tiga dimensi dasar, yaitu dimensi kesehatan menggunakan angka umur harapan hidup, dimensi pendidikan menggunakan angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah, serta dimensi ekonomi menggunakan angka pengeluaran riil per kapita (disesuaikan).
Semakin kecil jarak angka IPG dengan nilai 100, maka semakin setara pembangunan antara perempuan dengan laki-laki.
Selanjutnya, IDG adalah indikator yang dapat menunjukkan apakah perempuan dapat memainkan peranan aktif dalam kehidupan ekonomi dan politik.
Tiga indikator yang digunakan dalam penyusunan IDG, yaitu keterwakilan perempuan di parlemen, persentase sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja, dan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan melalui indikator perempuan sebagai tenaga manajerial, professional, administrasi, dan teknisi.
IPG Sulawesi Utara
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, IPG Sulawesi Utara terus mengalami penurunan kecuali di tahun 2017.
Di tahun 2020, IPG Sulawesi Utara tercatat 94,42. Angka ini menurun sebesar 0,62 poin dari IPG tahun 2016 sebesar 95,04.
Angka IPG 2020 diperoleh dari rasio IPM perempuan tahun 2020 sebesar 72,08 dibandingkan IPM laki-laki tahun 2020 sebesar 76,34.
Hal ini menunjukkan masih ada ketimpangan antargender dalam mencapai tujuan pembangunan di Sulawesi Utara.
Meskipun begitu, berdasarkan tingkatan kategori, kategori capaian IPM perempuan Sulawesi Utara sudah sama dengan capaian IPM laki-laki Sulawesi Utara yaitu berada pada kategori “tinggi”.
Capaian angka IPM laki-laki dan perempuan Sulawesi Utara di tahun 2020 sudah melebihi target IPM dalam RPJMD Sulawesi Utara 2016-2021.
Di tahun 2020, Sulawesi Utara juga menjadi provinsi dengan IPG tertinggi di wilayah Sulampua dan berada di atas angka nasional.
Pada dimensi pembentuk IPG; angka umur harapan hidup laki-laki naik dari 69,09 tahun di tahun 2016 menjadi 69,82 tahun di tahun 2020; sedangkan angka umur harapan hidup perempuan naik dari 72,99 tahun di tahun 2016 menjadi 73,67 tahun di tahun 2020.
Kemudian pada dimensi pendidikan, harapan lama sekolah perempuan lebih baik dibanding laki-laki.
Di tahun 2020, harapan lama sekolah perempuan tercatat 13,07 tahun; sementara laki-laki 12,76 tahun.
Kondisi dimensi pendidikan tersebut didukung oleh data angka partipasi sekolah perempuan Sulawesi Utara tahun 2020.
Pada kelompok umur 7-10 tahun angka partisipasi sebesar 99,46 persen, kelompok umur 13-15 tahun 96,77 persen, dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 75,98 persen.
Sedangkan angka partipasi sekolah laki-laki pada kelompok umur 7-10 tahun sebesar 99,71 persen, kelompok umur 13-15 tahun 93,91 persen, dan kelompok umur 16-18 tahun sebesar 69,83 persen.
Dari data angka partisipasi sekolah ini dapat diketahui bahwa penduduk usia sekolah yang lebih banyak menggunakan fasilitas pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas di Sulawesi Utara adalah perempuan.
Selanjutnya pada dimensi ekonomi.
Pengeluaran riil per kapita laki-laki naik dari Rp 14.056 ribu di tahun 2016 menjadi Rp 14.898 ribu di tahun 2020, sedangkan perempuan naik dari Rp 9.506 ribu di tahun 2016 menjadi Rp 9.980 ribu di tahun 2020.
Jika dilihat dari data Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Februari 2021, TPAK perempuan adalah sebesar 45,98 persen atau besarnya hampir setengah dari TPAK laki-laki yang telah mencapai 79,97 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi di Sulawesi Utara masih didominasi oleh penduduk laki-laki.
Dari data yang telah dipaparkan, ada hal yang menarik perhatian penulis.
Walaupun TPAK perempuan masih di bawah TPAK laki-laki, tetapi harapan lama sekolah perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
Hal ini mengindikasikan semangat yang tinggi dari perempuan Sulawesi Utara untuk mengenyam pendidikan yang tinggi dan lebih baik.
Pendidikan yang tinggi dan baik tidak melulu untuk kepentingan dalam mencari pekerjaan dan berkarir tetapi sudah menjadi suatu kebutuhan bagi perempuan.
Pendidikan yang tinggi diharapkan akan membentuk perempuan Sulawesi Utara yang mampu menyelesaikan berbagai masalah secara rasional dalam kehidupan dan membentuk cara berpikir perempuan dari sudut pandang yang berbeda agar dapat menjadi pribadi yang hebat.
IDG di Sulawesi Utara
Dalam mengukur keberhasilan pembangunan manusia di Sulawesi Utara, penting pula menjadikan IDG sebagai salah satu indikator evaluasi.
Sejak tahun 2016, IDG Sulawesi Utara menunjukkan tren menurun dari tahun ke tahun kecuali di tahun 2017, yaitu dari angka 81,42 pada tahun 2016 hingga mencapai angka 78,98 pada tahun 2020.
Tahun 2020, IDG Sulawesi Utara menurun sebanyak 2,26 poin dibandingkan tahun 2016.
Penurunan IDG ini mengindikasikan adanya kendala/masalah dalam hal tingkat partisipasi dan kesadaran perempuan untuk berkiprah di ruang publik yang tidak sejalan dengan keterbukaan akses bagi perempuan saat ini.
Dari ketiga indikator pembentuk IDG yang telah dicapai di tahun 2020, penurunan IDG disebabkan oleh penurunan pada indikator keterwakilan perempuan di parlemen selama lima tahun terakhir.
Persentase keterwakilan perempuan menurun menjadi 29,27 persen (2020) dari 37,78 persen (2016).
Sedangkan kedua indikator pembentuk IDG lainnya, yaitu perempuan sebagai tenaga profesional dan sumbangan pendapatan perempuan mengalami peningkatan, meskipun kecil.
Pada indikator perempuan sebagai tenaga profesional terdapat kenaikan sebesar 0.25 persen. Kemudian pada indikator sumbangan pendapatan perempuan sebanyak 0.94 persen.
Dengan adanya peningkatan pada dua indikator pembentuk IDG dapat diartikan bahwa pemberdayaan gender di Sulawesi Utara secara bertahap diharapkan dapat mengalami kemajuan di tahun-tahun yang akan datang.
Berdasarkan data yang telah dipaparkan, perlu pula menjadi perhatian bahwa tidak hanya kepada perempuan, upaya pemberdayaan gender juga harus dilakukan bersamaan dengan penguatan kesadaran laki-laki.
Keterlibatan laki-laki terutama laki-laki yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan sangat penting.
Selain agar laki-laki juga turut mempertimbangkan, memberi kesempatan, dan peluang, serta mengikutsertakan perempuan dalam berbagai pembangunan, keterlibatan laki-laki juga dapat memperkuat pengetahuan dan pemahaman laki-laki tentang kontribusi perempuan dalam pembangunan di Sulawesi Utara.
Dengan demikian, kesetaraan kerja sama antara laki-laki dan perempuan di semua sektor pembangunan akan semakin nyata yang pada akhirnya akan meningkatkan pemberdayaan pembangunan di Indonesia.
Saat ini, data IPG dan IDG tersedia dari tingkat provinsi hingga tingkat kabupaten/kota yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, sehingga sangat membantu pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota untuk dapat mengurangi kesenjangan antar daerah di Sulawesi Utara.
Koordinasi yang kuat dari semua pemangku kepentingan menjadi kunci utama untuk menjawab berbagai permasalahan terkait kesenjangan gender. (*)
Baca juga: Pemerintah akan Dirikan Pusat Jajanan Kuliner dan Cendera Mata di Likupang Sulawesi Utara
Baca juga: Parpol Baru, Cari Makan atau Cari Jodoh
Baca juga: Sosok Grace Batubara, Istri Juliari yang Jarang Terekspos, Sifat Asli Suaminya Terungkap