Soeharto Lengser
Firasat Harmoko 'Saya Minta Maaf Palunya Patah', 2 Bulan Kemudian Presiden Soeharto Lengser Mei 1998
Ketua MPR dan DPR RI kala itu, Harmoko merasakan firasat berakhirnya pemerintahan rezim Soeharto. Pak Harto lengser daua bulan kemudian pada Mei 1998.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Firasat lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan pada tahun Mei 1998 terjadi saat sidang pemilihan Pak Harto sebagai Presiden Republik Indonesia untuk ketujuh kalinya.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kala itu, Harmoko merasakan firasat berakhirnya pemerintahan rezim Soeharto.
Palu patah saat menutup sidang terpilihnya Soeharto sebagai Presiden Indonesia untuk ketujuh kalinya.
"Begitu palu sidang saya ketukkan, meleset, bagian kepalanya patah, kemudian terlempar ke depan...," ungkap Ketua DPR-MPR periode 1997-1999 Harmoko dalam buku Berhentinya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Harmoko.
Patahnya palu sidang itu terjadi saat Sidang Paripura ke-V, penutupan sidang MPR, 11 Maret 1998.
(Foto: Ketua MPR/DPR RI pada 1998, Harmoko sudah punya firasat Soeharto lengser./Reuters)
Sidang tersebut menandai terpilihnya lagi Soeharto menjadi Presiden untuk ketujuh kalinya.
Seperti biasa, sebagai pimpinan sidang, Harmoko menutup sidang dengan mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
Tapi, hari itu, palu sidang patah saat diketukkan. Kepala palu terlempar ke depan meja jajaran anggota MPR.
Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto, ada di barisan terdepan dan berhadapan langsung dengan kursi pimpinan dewan.
Kejadian tersebut sedikit mengguncang Harmoko.
Sebab, insiden patahnya palu sidang baru kali pertama terjadi dalam sejarah persidangan MPR yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Harmoko sewaktu menjabat Menteri Penerangan(Kompas/JB Suratno)
"Bahwa hati saya bertanya-tanya," ujarnya