Soeharto Lengser
Firasat Harmoko 'Saya Minta Maaf Palunya Patah', 2 Bulan Kemudian Presiden Soeharto Lengser Mei 1998
Ketua MPR dan DPR RI kala itu, Harmoko merasakan firasat berakhirnya pemerintahan rezim Soeharto. Pak Harto lengser daua bulan kemudian pada Mei 1998.
Usai sidang, seperti biasa pula, Harmoko mendampingi Presiden Soeharto meninggalkan ruang sidang paripurna.
Pertanyan-pertanyaan dalam benaknya tak kunjung sirna saat ia berjalan di atas karpet mengantarkan Presiden Soeharto menuju lift di Gedung MPR-DPR.
Sesampainya di depan lift, Harmoko menyatakan permohonan maaf kepada Presiden Soeharto.
"Saya minta maaf, palunya patah. Lantas Pak Harto hanya tersenyum sambil menjawab 'barangkali palunya kendor'," kata dia.
Firasat Harmoko
Patahnya palu dalam Sidang Paripura ke-V pada 11 Maret 1998 silam menandai terpilihnya lagi Soeharto, yang berpangkat Jenderal Besar TNI, menjadi presiden.
Selaku orang Jawa, Harmoko terus bertanya-tanya tentang peristiwa yang ia alami.
Apalagi, patahnya palu sidang baru kali itu terjadi.
Raut wajahnya berubah saat Harmoko menceritakan peristiwa itu.
Ada firasat yang dirasakan oleh mantan Menteri Penerangan itu. Peristiwa patahnya palu tak bisa ia lupakan.
Usai terpilih lagi menjadi Presiden untuk ketujuh kalinya, Soeharto dihadapkan dengan aksi-aksi demonstrasi besar menentang pemerintahan.
Firasat tak enak Harmoko lantas terjawab. Hanya dalam 70 hari setelah peristiwa patahnya palu atau pada 21 Mei 1998,
Soeharto memutuskan mundur dari jabatanya lantaran desakan publik.
Perjalanan Soeharto sebagai presiden RI selama 32 tahun pun patah bak palu yang diketukkan Harmoko.
Menurut Arwan Tuti Artha, penulis buku Dunia Spritual Soeharto, patahnya kepala palu di Sidang Paripura MPD ke-V memberi isyarat patahnya perjalanan Pak Harto di tengah jalan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ketua-mprdpr-ri-pada-1998-harmoko-kiri-meminta-soeharto-untuk-mundur-dari-jabatan-presiden.jpg)