Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Reklamasi Eks Tambang PT NMR

Leilem Jadi Ikon Tumbuhan di Kebun Raya Megawati Soekarnoputri

Tumbuhan ini merupakan jenis tumbuhan lokal, memiliki nilai ekonomi, dan dimanfaatkan secara lokal oleh masyarakat

Penulis: Finneke Wolajan | Editor: Finneke Wolajan
Tribun Manado/Finneke Wolajan
Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya kini telah direklamasi dan telah dijadikan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kebun Raya Megawati Soekarnoputri seluas 221 hektar adalah lahas bekas tambang PT Newmont Minahasa Raya.

Bukit Messel di Ratatotok, Minahasa Tenggara Sulawesi Utara, direklamasi PT Newmont Minahasa Raya (PT NMR). Hutan reklamasi ini kemudian menjadi Kebun Raya Megawati Soekarnoputri.

Berdasarkan keunggulannya, Kebun Raya Megawati Soekarnoputri mempunyai visi ‘Menjadi kebun raya terkemuka di dunia dalam bidang konservasi tumbuhan pamah kawasan Wallacea untuk pemanfaatan yang berkelanjutan’.

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berdasarkan karakteristik lingkungan, geologi, tumbuhan lokal yang dominan dan sosial budaya masyarakat di Kabupaten Minahasa Tenggara, maka tema koleksi tumbuhan di Kebun Raya Megawati Soekarnoputri adalah “konservasi tumbuhan pamah kawasan Wallacea”.

Ikon tumbuhan yang dipilih adalah “leilem” (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.), karena tumbuhan tersebut merupakan jenis tumbuhan lokal, memiliki nilai ekonomi, dan dimanfaatkan secara lokal oleh masyarakat.


Daun Leilem (Istimewa/Badan Litbang dan Inovasi KLHK Manado)

Penduduk asli Minahasa dan Manado, Sulawesi Utara memanfaatkan tumbuhan tersebut sebagai bumbu dalam makanan.

Daun “leilem” telah lama digunakan sebagai sayuran dan bumbu kuliner dalam berbagai jenis resep daging.

Baca juga: Kebun Raya Megawati Soekarnoputri, Hasil Reklamasi Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya

Selain itu, daun “leilem” dipercaya mengandung antioksidan alami yang berfungsi mencegah efek negatif lemak hewani.

Secara tradisional jenis ini telah digunakan sebagai obat dan telah menunjukkan adanya kandungan senyawa polifenol yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan.

Jenis ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: perdu atau pohon kecil, tinggi hingga 4,5 m, berbunga sepanjang tahun.

Daun bundar telur, hijau tua dan mengkilat. Bunga berwarna putih berbentuk tabung yang tersusun dalam kelompok, kelopak bunga menjadi sukulen dan berwarna merah setelah bunga mekar, buah berwarna biru-ungu tua.

Master plan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri menurut LIPI terdiri dari  empat zona.

Baca juga: Keanekaragaman Hayati di Hutan Reklamasi Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya

Pertama zona penerima, paling kurang meliputi gerbang utama, loket, pusat informasi, dan fasilitas penunjang untuk pengunjung.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved