Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Badai Terjang Manado

Begini Penjelasan BMKG Terhadap Badai yang Menerjang Kota Manado

BMKG Sulawesi Utara memprediki sejumlah di Kota Manado dan secara umum di wilayah Sulawesi Utara, mengalami Hujan sedang hingga lebat

Penulis: Andreas Ruauw | Editor: David_Kusuma
Tribun manado / Andreas Ruaw
Badan terjang Manado 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - BMKG Sulawesi Utara memprediki sejumlah di Kota Manado dan secara umum di wilayah Sulawesi Utara, mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang.

"Kejadian ini merupakan dampak tidak langsung dari Bibit siklon 94W yang tanggal 14 April 2021 telah menjadi Siklon Tropis Surigae," ujar Koordinator Operasional Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi di Manado Ben Arthur Molle, Kamis (15/4/2021).

Ia mengungkapkan berdasarkan hasil pantauan adanya Bibit Siklon Tropis 94W di Samudera Pasifik Utara Papua.

Baca juga: 14 KPPS di Desa Tabilaa Resmi Dilantik, Pjs Sangadi Harapkan Kerja Profesional 

Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Buruk, Bupati Minsel Imbau Warga Hindari Wilayah Rawan Bencana

Baca juga: Begini Hasil Identifikasi Jenazah Denny Sakul, Kasat Reskrim AKP Sugeng: Tidak Ada Tanda Kekerasan

"Perlu diwaspadai juga bahwa pada bulan April dan Mei merupakan masa peralihan sehingga cuaca ekstrem yang terjadi akan leih sering pada siang hingga malam hari," katanya.

Kondisi cuaca pada sepekan kedepan diprakirakan didominasi hujan ringan hingga sedang di sebagian besar Sulawesi Utara, dan beberapa wilayah yang berpotensi terjadi hujan lebat dan angin kencang.

Kondisi tersebut dipengaruhi akibat adanya Bibit Siklon Tropis 94W. 

Badai angin kencang menerjang Manado, Kamis (15/04/2021) sore.
Badai angin kencang menerjang Manado, Kamis (15/04/2021) sore. (Tribun Manado / Fernando Lumowa)

"Perlu kami ingatkan kembali bahwa pada periode April dan Mei 2021 merupakan masa peralihan (Pancaroba)," ucapnya.

Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) juga masih perlu diwaspadai di masa pancaroba yang dapat mengakibatkan kondisi ekstrim.

Baca juga: Kecelakaan Maut Tadi Siang, Gadis 19 Tahun Tewas Terlindas, Bus Ugal-ugalan Senggol Motor Korban

Baca juga: Selama Dua Hari, Kemenparekraf RI Latih Musisi Sulut Jadi Musicpreneur

Baca juga: Sistem Resi Gudang di Sulut Tak Jalan, Bupati Minsel Sebut Gudang Rusak, Alatnya Hilang

Cuaca yang dapat terjadi pada periode peralihan yaitu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi yang singkat dan disertai angin sangat kencang. 

"Kondisi tersebut dapat disertai dengan fenomena hujan es dan puting beliung pada kondisi atmosfer lokal yang sangat labil," tandasnya.

Pada masa peralihan, perubahan cuaca signifikan menjadi cuaca buruk akan sering terjadi pada siang hingga malam hari.

Baca juga: Sosok Merliaty Simanjuntak, Istri Bupati Sumba Timur, Terjang Lumpur dan Pikul Bantuan Korban Banjir

Baca juga: Ini Penyebab Kabupaten Minahasa Selatan Masih Zona Orange, Meski tak Lagi Punya Pasien Covid-19

Baca juga: BI Sulut Siapkan Rp 1,6 Triliun Untuk Kebutuhan Selama Masyarakat Selama Ramadan

Arthur melanjutkan, masyarakat diimbau agar terus mewaspai potensi hujan lebat disertai angin kencang secara tiba-tiba terlebih khusus di daerah dekat pantai.

"Kami juga menghimbau bagi masyarakat yang tinggal didaerah rawan bencana banjir dan tanah longsor agar lebih meningkatkan kewaspadaan.

Serta dapat memantau informasi peringatan dini cuaca ekstrem dan prakiraan cuaca dari Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado," ujar Arthur.

Baca juga: Rincian Sumber dari Kasus Suap Rp 25,7 Miliar yang Diterima Mantan Menteri KKP Edhy Prabowo

Baca juga: Ketua Kohati, Miranty Manangin, Beri Tips Khusus Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Baca juga: Chord Gitar dan Lagu Hilang Permataku - Yuni Shara, Hilang Harapanku

YOUTUBE TRIBUN MANADO:

 
 

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved