Breaking News
Sabtu, 2 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Objek Wisata

Misteri Batu yang Bisa Menggandakan Diri di Pusat Kota Manado

Di kalangan objek wisata sebangsanya, watu sumanti istimewa karena masih mengandung daya magis.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Misteri Batu yang Bisa Menggandakan Diri di Pusat Kota Manado - watu-sumanti-di-kelurahan-tikala-ares-lingkungan-2-54.jpg
tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
Watu Sumanti, di Kelurahan Tikala Ares Lingkungan 2.
Misteri Batu yang Bisa Menggandakan Diri di Pusat Kota Manado - watu-sumanti-di-kelurahan-tikala-ares-lingkungan-276.jpg
tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
Watu Sumanti, di Kelurahan Tikala Ares Lingkungan 2.

Padahal, menurut sejarah, semua yang ada di sekitarnya, bahkan Manado berasal dari batu itu. 

Watu itu menandai pemukiman pertama di Manado. Watu itu hadir sebagai tanda pendirian desa atau tempat pemukiman baru.

Area sekitar batu itu adalah tanah lapang yang kemudian menjadi tempat pemukiman Wanua Ares, pemukiman pertama di kota Manado

Dalam tradisi Minahasa, Watu Sumanti berasal dari kata watu (batu) dan santi (pedang). Artinya, batu tempat memainkan pedang. 

Dahulu kala, para Tonaas Minahasa melakukan ritual pengusiran roh jahat atau mengobati penyakit di batu itu dengan cara mengayunkan pedang. 

Menurut sejumlah warga setempat, batu tersebut unik karena selalu menggandakan diri. 

Tribun Manado mewawancarai seorang warga bernama Feki Lasut. Ia adalah turunan dari Ares. Menurut Feki, batu tersebut dulunya hanya dua.

"Namun sekarang ada banyak sekali, batu itu menggandakan dirinya," kata dia. 

Dikatakan dia, dulunya batu itu dianggap keramat oleh warga setempat. Tak ada yang berani mendekat tempat itu. 

"Semua hormat dengan batu itu," kata dia.

Ia menuturkan, sejumlah warga pernah mengalami kejadian gaib dengan batu itu.

Dari seorang rekannya, ia mendengar cerita bahwa batu itu satu-satunya tempat yang tidak terkena banjir saat banjir besar tahun 1936 di Manado.

"Kala itu semua mengungsi ke Bumi Beringin. Anehnya batu itu tidak kebanjiran padahal posisinya berada tak jauh dari sungai," kata dia.

Feki mengatakan, batu itu hilang peranannya seiring waktu. Dari batu bertuah, batu itu mulai diabaikan, bahkan dilupakan.

"Di sini banyak sekali pendatang, orang asli Ares makin sedikit, apalagi dengan kemajuan teknologi," kata dia.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved