Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Minsel

Pedagang Bergantung Pasokan dari Gorontalo, Harga Cabai Bertahan Rp 90 Ribu per Kilogram

Harga cabe rawit di pasar tradisional masih tinggi. Tak terkecuali di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel)

Penulis: Rul Mantik | Editor: David_Kusuma
Tribun Manado / Rul Mantik
Kewes Badar 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Harga cabe rawit di pasar tradisional masih tinggi. Tak terkecuali di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Hingga Selasa (16/3/2021), harga cabe masih di angka Rp90 ribu per kilogram (kg).

Menurut Kewes Badar, pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Amurang,

selang sebulan terakhir, harga cabe tak pernah turun kurang dari Rp80 ribu per kg.

Baca juga: Senator Stefanus Liow Sentil Honor Penyuluh Pertanian Cuma Rp 400 Ribu per Bulan

Baca juga: Demi Menjaga Situasi Kamtibmas, Kapolda Sulut Pererat Sinergitas dengan Jajaran Kodam Merdeka

Baca juga: Sekda Tahlis Gallang Buka Forum Konsultasi Publik Penyusunan Rancangan Awal RKPD Tahun 2022

"Sejak awal Februari lalu, harga cabai tak pernah turun kurang dari 80 ribu rupiah per kilogram.

Malah, harganya sempat mencapai 100 ribu rupiah per kilogram.

Sekarang kami jual dengan harga 90 ribu rupiah per kilogram," ungkap Kewes.

Baca juga: Masih Ingat Nina Zatulini?Tak Nampak Lagi di Layar Kaca, Ternyata Begini Perlakuan Suaminya

Baca juga: Akhirnya Terbit Sitepu Mengaku Dirinya Bunuh Istri yang Hamil 6 Bulan, Luluh Dengar Kata Polisi

Baca juga: Berita Tomohon Populer: Guru Honor di Tomohon Telat Gajian | Pria Ditemukan Meninggal di Toilet

Tingginya harga penjualan di tingkat pedagang eceran, kata Kewes, disebabkan tingginya harga beli mereka dari pemasok.

"Pemasok cabai mematok harga beli Rp 76 ribu per kilogram.

Tapi kami harus menjualnya dengan harga Rp 90 ribu, sebab risiko kami adalah cabai yang rusak dan tidak terjual.

Kalaupun semua bisa terjual, tetap ada penyusutan cabai yang membusuk," terang Kewes sambil terus melayani pelanggan.

Baca juga: Kecelakaan Maut, Tanjakan Cae Kerap Memakan Korban, Sebelumnya Bus kini Truk, Apa Penyebabnya?

Baca juga: Akhirnya Terbit Sitepu Mengaku Dirinya Bunuh Istri yang Hamil 6 Bulan, Luluh Dengar Kata Polisi

Baca juga: Viral Siswi SMA Melahirkan saat Ujian, Ayah Bayi Masih Keluarga

Dia menduga, meroketnya harga cabai disebabkan rendahnya hasil panen cabai dari daerah penghasil.

Sebab, katanya, biasanya pedagang pengumpul memiliki stok cabe yang banyak, namun saat ini sudah berkurang.

"Jadi kami pedagang eceran harus cepat menghubungi pemasok, agar stok cabai yang akan dijual terus ada," paparnya.

Baca juga: Jhoni Allen Marbun Sindir AHY Terkesan Pilih-pilih Orang: Demokrat untuk Siapa Saja, Termasuk Anda

Baca juga: Chord Gitar Lagu Judika - Tersenyumlah Sobat, Kunci Dasar C Paling Mudah Dimainkan

Baca juga: Kecelakaan Maut Satu keluarga, Namun Nyawa Sang Ibu Tidak Tertolong, Suami dan Anak Sementara Rawat

Tingginya harga cabai, berpengaruh pada bisnis penjualan makanan di Amurang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved