Rabu, 10 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

citizen journalism

Pesan di Balik Film The Social Dilemma

Film berdurasi 1 jam 34 menit itu mengurai banyak hal yang tidak disadari oleh manusia abad 21.

Tayang:
Capture Youtube
Film The Social Dilemma 

Beberapa negara maju bahkan tak berdaya.

Krisis komunikasi politik antara partai demokrat dan partai republik di Amerika serikat diciptakan secara eksponensial oleh kekuatan sosial media.

Bahkan konon kabarnya era demokrasi masa kini berada dalam kendali Facebook.

Ketika saya merenungkan film dokumenter itu.

Kita pada akhirnya akan paham bahwa ada satu kebenaran yang tak pernah goyah dalam hati manusia.

Seorang Tristan Harris dan para teknisi sosial media tersebut bisa saja abai dengan kegelisahanya dan meneruskan langkah dan menumpuk kapital dari perusahaan-perusahaan mereka.

Tapi kegelisahan itu membuahkan kekhawatiran akan berakhirnya sebuah kehidupan sejati.

Sosial media dan industri internet tak mungkin lagi lari dari derasnya artifisial intelegensi untuk menopang dan memudahkan kehidupan manusia.

Tapi jarak dekat yang diciptakan sosial media tersebut faktanya tidak mampu mempertahankan nilai-nilai objektifitas, pikiran kontruktif.

Dia sangat rapuh dan bersifat manipulatif. Seperti halnya kisah dalam film itu.

Simulasi tentang seorang anak yang kehilangan identitas dirinya karena kecanduan sosial media.

Gawai dengan segala macam aplikasi sosial medianya menemani dirinya di meja makan, di kamar mandi, tempat tidur hingga merebut ruang nyata interaksi sosialnya baik itu hubungan hangat dalam dekapan keluarga maupun di sekolah.

Semua itu direbut, dia serupa boneka voodo yang dikendalikan dari jarak jauh.

Di akhir film yang mengetuk nurani itu, sebagian di antara mereka optimis bahwa kelak pada masa yang akan datang harus ada solusi untuk mencari titik keseimbangan. 

Antara mekarnya utopia sosial media dan distopia yang menakutkan bagi kelangsungan kehidupan yang bermartabat bagi umat manusia.

Mereka, Tristan dan orang-orang hebat dalam film itu justru mengalami titik balik dan kehati-hatian.

Beberapa di antara mereka justru menerapkan aturan ketat, anak-anak dan keluarga mereka dijauhkan dari gawai dan media sosial terutama ketika masih anak-anak.

Kini kita menjadi paham bahwa munculnya para teknisi sosial media dalam film itu yang berani melakukan autokritik menciptakan benih kesadaran baru bahwa laju pesona industri internet sebaiknya melahirkan defenisi baru tentang pentingnya batas-batas penciptaan inovasi yang berbasis artifisial intelegensia.

Manusia tak hanya membutuhkan kemudahan dan glamornya industri internet.

Tapi manusia membutuhkan nilai abadi yang menjaga pribadi setiap orang agar tetap utuh.

Menjadi manusia modern yang tidak kehilangan identitas kemanusiaan, interaksi yang teduh sesama manusia, senyum lebar bagi tetangga rumah, dan kebahagiaan saling menatap di ruang tamu sebuah rumah bagi satu keluarga.

Ketakutan-ketakutan yang kini diciptakan oleh sosial media adalah kenyataan sejarah.

Seseorang kita harapkan hadir menciptakan yang baru. Mencipatkan keseimbangan baru dengan industri internet yang tidak membunuh pemakainya

Akhirnya saya menyaksikan akhir dari kisah film itu dengan hati yang basah.

Mungkinkah kita semua dapat menemukan titik terang dalam gulita keniscayaan sosial media dan industri internet pada masa yang akan datang?

Ataukah pada akhirnya semua akan terbunuh secara tidak sadar?

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved