Breaking News:

Pandemi Covid 19

Pembatasan Perjalanan Udara, Produsen Pesawat Airbus Rugi Rp 18 Triliun

Penjualan Airbus turun menjadi 49,9 miliar euro dari 70 miliar euro tahun sebelumnya.

Airbus
Pembuatan pesawat Airbus A320 di Eropa. Airbus mengurangi produksi pesawat karena pembatasan perjalanan di sejumlah negara akibat pandemi Covid-19. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Produsen pesawat Airbus sangat terpukul oleh pandemi Covid-19.

Mengutip warta VOA Indonesia, perusahaan yang berbasis di Eropa ini merugi 1,1 miliar euro atau 1,3 miliar atau Rp 18,3 triliun lebih (kurs Rp 14 ribu).

Hal ini merupakan kemerosotan industri perjalanan udara global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski demikian, produsen pesawat Eropa itu berharap dapat menjual ratusan pesawatnya tahun ini dan memetik keuntungan.

CEO Airbus Guillaume Faury, Kamis (18/2/2021), mengakui kinerja perusahaannya tahun lalu “jauh dari harapan'' dan harus terus-menerus beradaptasi ketika maskapai-maskapai penerbangan terpaksa mengistirahatkan pesawat-pesawat mereka atau gulung tikar karena pembatasan-pembatasan perjalanan.

Airbus mengumumkan Juni lalu bahwa perusahaan itu terpaksa akan memangkas 15.000 pekerjaan, sebagian besar di Perancis dan Jerman.

“Krisis belum berakhir. Itu sepertinya akan berlanjut sepanjang tahun ini,'' katanya. Airbus memperkirakan industri penerbangan tidak akan pulih ke tingkat prapandemi hingga 2023-2025.

Penjualan Airbus turun menjadi 49,9 miliar euro dari 70 miliar euro tahun sebelumnya.

Perusahaan juga melaporkan kerugian pada 2019 karena penyelesaian kasus korupsi multinasional besar-besaran.

Airbus menjual 566 pesawat tahun lalu dan berharap dapat memasarkannya dalam jumlah yang sama pada tahun ini, kata perusahaan itu.

Airbus hanya berhasil menerima 268 pesanan pesawat komersial tahun lalu, turun dari 768 pada tahun sebelumnya.

Meski membukukan angka penjualan yang jauh di bawah rata-rata pada keadaan normal, prestasi yang dibukukan Airbus lebih baik dari saingannya dari AS, Boeing, yang sedang berusaha bangkit dari keterpurukannya.

Boeing Co mendapat lonjakan pesanan dan pengiriman pesawat baru pada Desember, tetapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan bisnisnya pada tahun itu.

Perusahaan itu terus menerus mengalami pembatalan pemesanan untuk jet 737 Max-nya, yang sempat dilarang terbang selama 21 bulan setelah kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 orang secara keseluruhan. (*)

Baca juga: Hendak Melayat Jenazah Mantan Gubernur SH Sarundajang, 27 Orang Terdeteksi Reaktif Covid-19

Baca juga: Jakarta Utara Dilanda Banjir Susu, Anak-anak Kegirangan

Baca juga: Ini Sejarah Perjalanan Cheetos yang Kini Tak Akan di Produksi di Indonesia pada Agustus Mendatang

Editor: maximus conterius
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved