Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cerita Dua Perempuan Ibu dan Anak Sama-sama Bertugas di Militer Afghanistan

Pada usia 12 tahun Amina terbiasa mengenakan seragam ibunya dan menjadi bagian dari dinas militer merupakan impian masa kecilnya.

www.shethepeople.tv
Foto ilustrasi personel angkatan bersenjata perempuan Afghanistan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Berdinas di Tentara Nasional Afghanistan menjadi kebanggaan bagi Laila Sadat dan putrinya yang berusia 19 tahun, Amina.

Mengutip warta VOA Indonesia, saat ini keduanya berdinas di 207th Zavar Corps di Provinsi Herat, di mana mereka juga menjalani latihan di pangkalan militer di sana.

Amina memulai kariernya di militer empat bulan lalu.

“Kami berharap dapat mencapai perdamaian di negara ini, di mana hak-hak perempuan dihormati dan kami dapat melanjutkan tugas kami seperti saudara-saudara laki-laki kami”.

Namun, ia kini khawatir jika perjanjian damai yang mungkin tercapai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan tidak dapat membuatnya berdinas di militer lagi.

Rezim Taliban yang melindungi pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, memimpin Afghanistan sebelum invasi Amerika pada 2001.

Namun, sejak Amerika dan Taliban pada awal tahun ini menandatangani perjanjian untuk mengakhiri perang terlama dalam sejarah Amerika, para perempuan di Afghanistan mulai khawatir tentang kehilangan sebagian hak dan kebebasan yang telah mereka raih dua puluh tahun terakhir ini.

Perjanjian tersebut juga mempertimbangkan pembicaraan damai antara Taliban dan pemerintah Ashraf Ghani.

Ibu Amina, Laila Sadat, sudah menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Afghanistan selama sembilan tahun.

Laila memiliki lima putri dan tiga putra. Pada 2001 mereka pindah dari kampung halaman mereka di Provinsi Bamyan ke Provinsi Herat. 

Taliban menghancurkan patung-patung Budha di Provinsi Bamyan. 

Meskipun khawatir dengan keselamatan putrinya, Laila mengatakan ia menghormati keputusan Amina dan senang melihat Amina mengenakan seragam tentara.

“Afghanistan adalah tempat yang berbahaya untuk setiap orang, tetapi lebih berbahaya lagi bagi mereka yang berdinas di militer. Dengan menerima seluruh risiko, saya mendaftarkan putri saya di militer karena ia sangat tertarik pada dunia militer dan saya bangga kepadanya,” ujar Laila.

Demi alasan keamanan, Korps 207 tidak mengungkapkan jumlah perempuan yang direkrut.

Namun, sebagian besar tentara bekerja sebagai tenaga administrasi, meskipun sesekali mereka turun ke lapangan jika diperlukan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved