Sarundajang Meninggal
Plh Gubernur Edwin Silangen Perintahkan Bupati Wali Kota Pasang Bendera Setenga Tiang, Hormati SHS
Demi menghormati jasa dan pengabdian almarhum Dr Drs Sinyo Hari Sarundajang, Pelaksana harian (Plh) Gubernur Sulut, Edwin Silangen mengirim surat
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Demi menghormati jasa dan pengabdian almarhum Dr Drs Sinyo Hari Sarundajang, Pelaksana harian (Plh) Gubernur Sulut, Edwin Silangen mengirim surat edaran ke Bupati dan Wali Kota se-Sulawesi Utara untuk memang bendera merah putih setenga tiang.
Hal ini untuk menghormati jasa dan pengabdian SH Sarundajang terhadap daerah ini. Bahkan, merupakan putra Sulut yang berkarier hingga tingkat nasional.
SHS sapaan akrab birokrat politisi ini telah mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia selama 50 tahun. Tepatnya sejak Januari 1970 hingga Januari 2021, tanpa pernah kehilangan jabatan alias nonjob.

Di usia belia yakni 25 tahun, Sinyo sudah berstatus dosen di Fakultas Sosial Politik Universitas Sam Ratulangi Manado dengan mata kuliah Ilmu Politik. Kemudian tahun 1974, dosen di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Manado dengan mata kuliah Administrasi Negara.
Karier birokrat Sinyo benar-benar dari usianya yang masih terbilang belia dengan disiplin ilmu yang kuat. Karena itu, dia merupakan yang terbaik sebagai PNS Pemprov kala itu. Tak heran tahun 1974, Gubernur saat itu Jenderal, sapaan akrab Hein Victor Worang, melirik pegawai muda ini untuk diberikan tanggungjawab besar sebagai Kepala Direktorat Keamanan dan Politik pada Direktorat Sospol Dati I Sulut.
HV Worang melihat potensi besar dalam diri Sinyo, karena itu pada 1975, Gubernur Worang mengirim Sinyo untuk mengikuti tugas belajar mendalami Administrasi Teritorial di Institute International Administration Publique Francaise, Prancis.
Saat menimba ilmu di Prancis, Sinyo menjadi lulusan terbaik dan mengalahkan para mahasiswa dari negara lain. Bahkan di Prancis, Sinyo menerima penghargaan Certificate Asseduite Cours de Perfectionmeet du Francais Universite de Nice.
Sekembali dari Perancis, tahun 1976, Sinyo menjadi konseptor Gubernur HV Worang. Sinyo yang selalu menyusun pidato Worang. Walau pun sering dimarahi Worang, tetapi Sinyo sangat disayangi oleh Gubernur Worang. Karena itu Sinyo juga banyak belajar dari sang Jenderal.
Worang kemudian memberikan kepercayaan yang lebih besar, menjadi Kepala Biro Pemerintahan Umum, Kantor Gubernur. Ia bertugas dari tahun 1977-1978. Sinyo mencatat sejarah menjadi pejabat eselon II di usia yang masih sangat muda 32 tahun.
Lebih hebat lagi, di usia yang masih 33 tahun (1978), Sinyo sudah mencapai karir birokrat tertinggi. Ia ditunjuk oleh Gubernur Worang menjadi Pj Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten atau Sekwilda Kabupaten Minahasa. Saat itu Minahasa belum dimekarkan, terbentang dari Likupang sampai Poigar. Tahun 1981, Kepala Biro Penyelenggaran Pemilu Provinsi Sulawesi Utara.
Tahun 1983, diangkat menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa. Sinyo menjadi Sekda hingga tahun 1986. Bahkan ayahnya saat itu harus memberi hormat ketika ketemu di saat dinas. Tetapi di rumah, Sinyo harus tunduk. Karena saat ayahnya menjadi Camat, Sinyo atasannya sebagai Sekwilda.

Sepanjang sejarah, belum pernah ada pejabat yang menjadi sekretaris daerah di usia yang masih 33 tahun. Ayah Sinyo bahkan yang saat itu menjabat camat, tidak percaya melihat anaknya dilantik oleh Gubernur Worang menjadi Sekwilda. Ayahnya bahkan tidak terima diperintah oleh anaknya.
‘’Anak spanggal sudah menjadi sekda,’’ kata ayah Sinyo kaget melihat anaknya dilantik. Dan memang, saat Sinyo menjadi Sekda, semua bawahannya lebih tua dari Sinyo.
Tetapi di dalam lubuk hati paling dalam, ayahnya sangat bangga. Apalagi ibunya, yang selalu membanggakan hasil jerih payahnya menyekolahkan Sinyo. Kisah anak Sekda dan ayah camat ini, belum pernah ada dalam sejarah.
Di usia 41 tahun, ia dipromosikan untuk mempersiapkan Bitung dari kecamatan menjadi Kota Administratif. Tahun 1986, Sinyo menjadi Wali Kota Kota Administratif Bitung, kemudian 1990 Pj Wali Kotamadya Bitung, dan 1991-2000 menjadi Wali Kota Bitung.
Bitung kemudian menjadi pilot projek nasional kota administratif pertama di Indonesia. Sinyo menjadi Wali Kota Bitung terlama (14 tahun) tiga periode dari 1986 sampai 2000. Di masa itu Ia mengikuti Sespanas (1986) dan Terpadnas (1988).