Breaking News:

Sakti Wahyu Trenggono Memang Sudah Dipersiapkan Masuk Kabinet?

Reshuffle kabinet kali ini terindikasi kurang menggambarkan itikad istana untuk memperbaiki kinerja kabinet Jokowi Jilid II

Editor: Sigit Sugiharto
Jannus T Halomoan Siahaan/FB
Dr Jannus T Halomoan Siahaan, pengamat pertahanan dan keamanan. 

Oleh : Dr Jannus TH Siahaan

Pengamat Sosial Politik

Nama Sakti Wahyu Trenggono sudah diperkirakan akan duduk di salah satu posisi menteri Jokowi jika terjadi reshuffle pertama setelah inagurasi Oktober 2019, karena ancang-ancang sudah dipersiapkan saat ia didapuk jadi wakil menteri pertahanan. Posisi Wamenhan adalah indikasi bahwa Wahyu Trenggono diminta untuk menunggu sampai ada bangku kabinet yang kosong alias diminta bersabar ada di dalam daftar tunggu

Seperti di tahun 2014, di tahun pertama Jokowi akan memberi beberapa posisi untuk kalangan independen sebagai sinyal bahwa Jokowi sedang membangun kabinet yang berimbang antara profesional, kalangan politik, dan pengusaha. Di tahun 2014 ada nama Anies Baswedan di kalangan independen, tapi didepak setahun kemudian, untuk penyesuaian politik. Di tahun 2020 ini pun, Wishnutama dikeluarkan dari daftar kabinet, untuk menyesuaikan komposisi partai politik setelah dua menteri Jokowi ditangkap KPK.

Jadi saya kira, nama Sakti Wahyu Trenggono adalah nama yang tak perlu dipertanyakan lagi, karena ia sudah ada di daftar waiting list, alias ia memang sedang menunggu moment reshuffle untuk masuk skuad utama kabinet.

Selain itu, Sakti Wahyu Trenggono adalah juga seorang pengusaha, yang dikabarkan memang dekat dengan PDIP. Profil paripurna ini sama dengan Sandiaga Uno. Jokowi akan mendapatkan dukungan politik sekaligus dukungan dari kalangan pengusaha, terutama untuk kebijakan-kebijakan reformasi ekonomi yang sedang diperjuangkan oleh Jokowi.

Sementara itu, pengangkatan Letjen TNI Muhammad Herindra dari kalangan TNI sebagai pengganti Sakti Wahyu Trenggono, adalah sebagai pertanda bahwa pertama, istana dan PDIP tetap menanam kuncian di Kementerian Pertahanan agar tidak sepenuhnya diserahkan kepada Prabowo, fungsi yang sebelumnya dijalankan oleh Sakti. Dan kedua, Herindra digadang-gadang sedang dipersiapkan untuk salah satu pos strategis di tubuh TNI, yakni Kasad. Jadi posisi Wamen adalah juga anak tangga bagi Herindra, layaknya Sakti Wahyu Trenggono yang sempat setahun di posisi tersebut.

Merujuk pada nama-nama dan latar belakang para pejabat yang baru, reshuffle kabinet kali ini terindikasi kurang menggambarkan itikad istana untuk memperbaiki kinerja kabinet Jokowi Jilid II, tapi lebih kepada penyesuaian politik, terutama setelah dua pos menteri berurusan dengan KPK dan setelah beberapa peristiwa politik yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Sandiaga Uno adalah indikasi bahwa Jokowi ingin mempertahankan koalisi permanen dengan Gerindra. Sama dengan pemindahan posisi Wamenhan menjadi Menteri KKP dan Risma di posisi Menteri Sosial sebagai tanda bahwa PDIP tetap menjadi motor politik utama Jokowi.

Sementara itu, didudukinya kembali Kementerian agama oleh kader NU boleh jadi bermakna bahwa kekhawatiran Jokowi dan koalisi atas Islam radikal di waktu pembentukan kabinet tahun lalu sudah berkurang, sehingga posisi kementerian Agama tak perlu lagi diduduki oleh orang-orang berlatar militer, tapi dikembalikan kepada kebiasaan / tradisi lama, yakni diisi oleh orang NU. Hal tersebut bisa dilihat dari keputusan reshuffle kementerian agama setelah terkendalinya tokoh seperti HRS dan FPI.

Sementara untuk kementerian kesehatan masih mengandung tanya, karena Gunadi Sadikin tak punya latar belakang dunia kesehatan. Tapi boleh jadi niat Jokowi adalah untuk melakukan restrukturisasi dan reformasi di sektor kesehatan, karena Gunadi Sadikin memang punya latar yang kuat dalam mereformasi beberapa BUMN, sampai akhirnya diangkat menjadi Wamen BUMN.

Sementara Muhammad Lutfi yang ditunjuk menjadi Menteri Perdagangan memperlihatkan bahwa Jokowi ingin memperbaiki performa perdagangan nasional, terutama ekspor, di satu sisi, karena track record Muhammad Lutfi yang bukan orang asing di bidang itu, tapi juga ingin menambah porsi pengusaha di dalam kabinet.

Secara umum, reshuffle kali ini adalah dalam rangka mematangkan posisi politik koalisi, agar semakin kuat dalam menyokong pemerintahan di satu sisi, tapi di sisi lain, Jokowi juga ingin sebanyak-banyaknya mendapatkan dukungan dari para pengusaha nasional, terutama untuk terealisasinya Omnibus Law, sehingga nama-nama Sandiaga, Trenggono, Muhammad Lutfi, Gunadi Sakidin, menjadi pilihan utama. Meskipun begitu, semua nama itu berpeluang untuk berkinerja baik, terutama Tri Rismaharini yang sebelumnya Walikota Surabaya. Tapi peluang konflik kepentingan juga cukup tinggi dari tokoh-tokoh yang berlatar pengusaha tersebut.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved