Breaking News:

Trilogi Pembangunan Jemaat

“Menyambut Kasih Karunia dengan Kerendahan Hati”

Di minggu Adven yang keempat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa orang Kristen mulai disibukan dengan menyiapkan

WWW.THOUGHTCO.COM
Renungan 

Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, sebuah kota yang terpencil di negeri itu, tempat yang tidak memiliki reputasi. Tempat yang tidak ternama namun tidak boleh menjadi suatu alasan untuk berburuk sangka terhadap orang-orang yang kepadanya Allah berkenan.

Allah menyuruh malaikat pada bulan keenam atau setelah Elisabet mulai mengandung, pergi kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria.

Malaikat itu berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai”, salam atau sapaan ini dimaksudkan untuk membangkitkan sesuatu di dalam diri Maria, yaitu: harga dirinya sendiri karena ia tergolong dalam status sosial yang rendah. Di masa itu, orang Yahudi menganggap perempuan adalah masyarakat kelas dua.

Salam ini menyatakan rasa hormat dengan maksud baik kepada Maria. Maria yang dikaruniai, kata Yunani yang dipakai adalah ‘Kecharitomene’, yaitu sesuatu yang ada pada Allah yang menyebabkan Ia memberikan karunia kepada orang yang tidak berlayak untuk menerimanya.

Kata ini menunjuk bahwa Maria menerima kebaikan dari Allah, padahal ia tidak layak mendapatkan (undeserved favour of God) kasih karunia itu. Ia memperoleh kehormatan untuk menjadi seorang ibu, bahkan hadirat Allah bersama Maria: “Tuhan menyertai engkau.”

Baca juga: Sosok Tri Mumpuni, Wanita Indonesia Jadi Tokoh Muslim Berpengaruh di Dunia, Pernah Dipuji Obama

Baca juga: Wanita Pemulung Ini, Rasa Kuat Bekerja, Usai Cemilan Silet, Per Hari 4 Buah, Rasa Seperti Kerupuk

Maria adalah seorang perawan yang masih dalam status bertunangan dengan Yusuf. Kata Yunani yang diterjemahkan ‘perawan’ adalah “Parthenos” dan kata ini tidak pernah digunakan untuk menunjuk kepada perempuan yang sudah menikah.

Di samping itu, kata-kata Maria dalam ayat 34, yang berbunyi ‘aku belum bersuami’ (‘I know not a man’=aku tidak tahu/kenal laki-laki) dan ini jelas menunjukkan bahwa ia betul-betul masih perawan.

Yesus lahir dari seorang perawan, yang dikandung dari Roh Kudus. Hal ini sesuai dengan nubuat Firman Tuhan (Yesaya 7:14). Anak yang dikandung dan dilahirkan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Yesus adalah anak Allah yang menjadi manusia, bahkan Dialah Allah itu sendiri.

Ia lahir dalam kekudusan bukan lahir sebagai manusia berdosa, karena itu Ia menebus dosa manusia. Ia akan menjadi besar dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, Bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Maria terkejut dengan peristiwa yang dialaminya, ia meresponi perkataan malaikat Tuhan yang memberikan kepadanya suatu kepercayaan, tanggung jawab atau kasih karunia yang luar biasa ini dengan mengatakan,

Halaman
1234
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved