Jakob Oetama
Sosok Jakob Oetama, Ajarkan Sikap Rendah Hati kepada Seluruh Orang Terdekat
Jakob Oetama, seorang pendiri Kompas, meninggal dunia, Rabu (09/90/2020).
Sosok Jakob Oetama yang rendah hati memiliki keprihatinan akan berbagai permasalahan bangsa.
Sindhunata, budayawan dan mantan wartawan Kompas, menyelisik empat pokok keprihatinan bangsa dari Jakob.
Keempat hal ini selalu ditekankannya dalam ulasan surat kabar harian Kompas.
Pertama, yakni keprihatinan pada pendidikan. Kedua, yaitu obsesi Jakob tentang memberikan pencerahan kepada publik.
Ketiga, keprihatinannya terhadap berbagai peristiwa sebagai momen sejarah.
Keempat, harapan agar wartawan Kompas tidak kering akan kekayaan hati.
Akademisi dan Ketua Tidar Heritage Foundation, Komaruddin Hidayat, agaknya sependapat dengan poin itu.
Dalam sebuah diskusi tentang buku Jakob Oetama di Bentara Budaya Jakarta, 13 November 2001, Komaruddin mengunjuk
pada keprihatinan Jakob tentang nasib demokrasi, integrasi bangsa kemajuan, pemerataan ekonomi, dan moralitas politik.
Jakob dalam Kompas Dari Belakang ke Depan (2007) menyebutkan, pandangan, sikap hidup, dan orientasi
nilai Kompas adalah paham kemanusiaan yang beriman, yang percaya pada nilai abadi dan kemanusiaan.
Prinsip itu sejalan dengan kalimat berbahasa Perancis yang kerap dikutipnya, un journal c’est un monsieur.
Artinya, surat kabar bersosok, berpribadi, justru karena memiliki pandangan hidup yang transenden
serta pandangan hidup yang bermasyarakat.
Selama berpuluh tahun, Kompas telah berkembang dan juga berubah, mulai dari ukuran, warna, serta makin sering
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sosok-jakob-oetama-ajarkan-sikap-rendah-hati-kepada-seluruh-orang-terdekat.jpg)