Jakob Oetama
Sosok Jakob Oetama, Ajarkan Sikap Rendah Hati kepada Seluruh Orang Terdekat
Jakob Oetama, seorang pendiri Kompas, meninggal dunia, Rabu (09/90/2020).
Frans Seda dalam Kompas, dari Belakang ke Depan (2007) juga mengenali sosok Jakob sebagai seorang yang pemalu.
Kesempatan dan ketekunan yang membuat Jakob menjadi pengusaha sukses. Meski demikian, Jakob tidak keblinger
dalam kesuksesannya. Jakob tetap setia dan terus mengembangkan profesinya sebagai wartawan.
Sejumlah rekan sejawat juga mengapresiasi kerendahhatian dalam profesi Jakob Oetama. Wartawan senior Rosihan Anwar,
dalam Semua Berawal dengan Keteladanan (2007), menyebut sosok Jakob adalah seorang pendekar pers Indonesia yang
cukup tangguh walau sering tampil merendah.
”Jakob Oetama kurang begitu senang disebut Raja Pers, Baron Pers, Rupert Murdoch-nya Indonesia,
dan lain-lain sebutan. Saya tidak bermaksud melebih-lebihkan dalam memuji Jakob.
Tetapi, sebagai wartawan, he is great,” ucap Rosihan dalam kesempatan ulang tahun Jakob yang ke-70.
St Sularto dalam Bersyukur dan Menggugat Diri (2009) memandang kerendahhatian Jakob juga tertuang saat
bersama rekan pendiri, PK Ojong. Dalam sebuah kesempatan, Jakob pernah mengucapkan, ”Sebagai seorang
yunior, saya belajar juga kepada Ojong, bukan dalam visi pandangan kemasyarakatan dan pola jurnalisme,
tetapi lebih pada teknik.” Sepeninggal PK Ojong pada 1980, Jakob yang banyak berkutat di redaksi kemudian
turut mengatasi bagian manajemen.
Humanisme
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sosok-jakob-oetama-ajarkan-sikap-rendah-hati-kepada-seluruh-orang-terdekat.jpg)