OPINI PAKAR
Bagaimana Generasi Z Merespon Pandemik-19
Berdasarkan gambaran gaya hidup tersebut terlihat bagaimana Gen Z sangat rawan terpapar covid-19.
Oleh: Prof Dr Ridwan Amiruddin SKM MKes MSc PH
Ketua Umum Persakmi Indonesia, Ahli Epidemiologi, dan Ketua Program S3 FKM Universitas Hasanuddin (Unhas)
Kelompok usia 5-20 tahun ini dengan dunia digitalnya lahir pada tahun 1995-2011.
Mereka termasuk kelompok yang rawan untuk terpapar covid-19.
Kelompok ini bukanlah barrier terhadap penularan penyakit covid-19. Mereka sekarang termasuk usia sekolah yang aktif.
Generasi Z merupakan satu kelompok dalam mata rantai penularan covid-19 yang sebagian besar dalam kategori covid-19 asymptomatik (tanpa gejala) dalam kategori ringan hingga sedang.
• Penyebab 13 PNS di Asahan Dipecat, Ditandai Surat Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH)
Angka kesembuhannya tinggi dan waktu rawat yang relatif lebih singkat.
Ciri utama generasi z terletak pada beberapa aspek.
1. Memiliki akses informasi yang tinggi (35 2%).
2. Mengakses internet 3-5 jam/hari dengan akses 90% lewat ponsel pintar. Sebagian besar melalui instagram.
3. Feisyen; 90% belanja di Mall, kulinernya KFC dan McFonalds.
4. Hiburannya 61% main game 1-3 jam/hari.
5. Suka traveling
Gen Z merespon pandemik Covid-19.
Sesuai naluri dan zamannya gen Z merespon pandemik dengan beragam pola. Di antaranya;
1. Sebagian menganggap covid-19 masalah yang penting.
2. Covid berpengaruh hanya pada kelompok tertentu dan
3. Covid tidak berpengaruh pada mereka.
Hal ini menggambarkan bahwa literasi yang benar tentang penularan covid-19 belum sampai dengan benar pada kelompok ini.
Berdasarkan gambaran gaya hidup tersebut terlihat bagaimana Gen Z sangat rawan terpapar covid-19.
Interaksi sosial yang tinggi di antara kelompoknya dan pemilihan tempat menghabiskan waktu adalah faktur pemicu peningkatan kasus covid-19.
• Persaingan Usaha Berujung Maut, Kakak Beradik Tewas Dibacok, Pelaku Berjumlah Tiga Orang
Tempat menghabiskan waktu bagi mereka termasuk kategori level 9 sebagai tempat penularan.
Bahkan sekitar 30% tempat kumpul kaum muda ini telah terpapar covid-19.
Kalaupun pada situasi terkini, kaum muda ini masih memiliki angka insidensi yang relatif lebih rendah dari kelompok usia 25-45 tahun sebagai kelompok produktif itu karena kebijakan pemerintah untuk menutup sekolah sejak bulan Maret 2020 hingga sekarang.
Merespon gaya hidup Gen Z
Mencermati gaya aktifitas gen Z dan potensi paparan covid-19 terhadap mereka perlu terobosan atau inovasi untuk menjangkau mereka secara massive dalam aktifitas hariannya.
Misalnya mengembangkan dan meningkatkan potonsi applikasi artificial intelegency (IT) dalam hal: tracking high risk group, promosi hidup sehat terlindung dari covid-19, hingga deteksi dini untuk penemuan kasus cepat.
Juga isolasi untuk mencegah penularan, treatment untuk pemulihan segera, dan rehabilitasi secara mandiri.
• Pria Asal Manado Ini Jadi Model Terkenal di New York, Intip Potret Gantengnya Oliver Prasetyo
Hal ini penting untuk membangun kultur bawah sadar mereka taat pada protokol kesehatan tanpa merasa paksaan, tapi atas kesadaran kolektif mereka untuk mengambil peran dalam penegakan protokol kesehatan dengan benar.
Pendekatan ini tidak bisa di nafikan, mengingat kelompok gen Z cukup besar jumlahnya dan mobilitasnya yang tinggi menyebabkan mereka adalah host sekaligus vektor super spreader terhadap penularan covid-19.
Sekiranya kelompok gen Z ini dibiarkan tanpa pengelolaan yang baik, maka satu simpul mata rantai dari penularan covid-19 yang dibiarkan beredar di masyarakat.
Sehingga pertempuran melawan dan mengendalikan covid-19 akan berlangsung lebih lama lagi dan tentu akan menguras seluruh potensi yang ada. (*)
Makassar 20 Agustus 2020