Berita Kesehatan
Dampak Buruk Jika Orang Tua Cuek Terhadap Kesehatan Mental Anak
Hal ini sebagaimana yang dikatakan Psikolog Anak sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid 19 Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Annelia Sari Sani.
Masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada anak, Annelia membagi masalah kesehatan mental pada anak menjadi lima kategori, yaitu:
1. Masalah perilaku
- ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) atau gangguan hiperaktivitas karena kurangnya perhatian sehingga memengaruhi perilaku anak.
- Conduct Disorder, gangguan perilaku dan emosi serius yang membuat anak menunjukkan perilaku kekerasan dan cenderung sulit mengikuti aturan.
- Penyalahgunaan NAPZA atau narkotika dan obat-obatan terlarang.
2. Gangguan emosional, seperti gangguan mood, kecemasan, menarik diri dan keterasingan, serta stres akibat trauma.
3. Gangguan hubungan anak dengan orangtua dan keluarganya.
4. Gangguan perkembangan dan belajar seperti disabilitas intelektual, gangguan belajar spesifik, skizofrenia, dan autistic spectrum disorder (gangguan perkembangan yang ditandai oleh hambatan dalam berinteraksi sosial).
5. Gangguan perilaku makan dan perilaku kesehatan, gagal tumbuh atau stunting.
Deteksi sejak dini lalu intervensi
Annelia menyarankan dua hal yang bisa kita lakukan sebagai orangtua untuk memberi dukungan kepada anak dan remaja yang mengalami gangguan mental.
"Deteksi sejak dini. Ini bukan cuma tanggung jawab keluarga, melainkan seluruh elemen yang berkepentingan terhadap adanya generasi yang sehat secara fisik dan mental," ucap Annelia.
Setelah mendeteksi adanya gangguan mental, lakukan intervensi yang sifatnya menyeluruh, fokus pada kegiatan promotif dan preventif, serta peningkatan faktor protektif atau pendukung kesehatan mental pada anak dan remaja.
Stigma negatif
Co-founder Ubah Stigma Asaelia Aleeza, yaitu sebuah komunitas dengan misi meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental untuk melawan stigma terhadap isu kesehatan mental, mengatakan hingga kini masih banyak stigma negatif yang ditujukan pada penderita gangguan mental di Indonesia.
"Stigma yang paling sering ditemui adalah rasa malu dan bingung. Mereka malu mengakui bahwa memiliki gejala-gejala gangguan mental serta tidak memahami solusi alternatif yang mereka miliki," tutur Asaelia.