Berita Sulut

Petani Cengkih Curhat, Harga Rp 63.000 Jadinya 'Besar Pasak daripada Tiang'

Desakan agar pemerintah menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Hasil Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan makin meluas

Tribun manado / Ryo Noor
Diskusi terkait PPN Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan di Hotel Quality, Manado, Selasa (30/6/2020) 

TRIBUNMANADO. CO. ID, MANADO - Desakan agar pemerintah menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Hasil Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan makin meluas.

para petani pun menyuarakan agar PPN tersebut dihapus

Paulus Sembel, Petani Cengkih asal Sulut masalah cengkih naim turun ini sudah menahun, petani bolak-balik demo menyaurakan aspirasi, bahkan sampai ke Jakarta.

"Sikap kami pengenaan PPN ke cengkih sangat tidak setuju, kami menolak, " ujar Sekjen Forum Peduli Petani Cengkih ini pada diskusi terkait PPN Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan di Hotel Quality, Manado, Selasa (30/6/2020)

Pengenaan PPN terhadap komoditas perkebunan memang agak berat, padahal harusnya petani diberi stimulus di masa Covid-19. Penghapusan PPN ini bisa jadi satu di antaranya.

Bupati Bolsel Tegaskan Akan Tutup Tambang Ilegal di Tobayagan

PPN ini dikenakan ke pedagang antar pulau, pedagang pengumpul, otomatis akan terjadi penekanan harga di petani

Bicara harga cengkih saat Rp 63.000, menurut Sembel tak masuk akal, mulai dari pemetikan sampai penjualan biayanua berkisar di angka Rp 70.000

"Biaya petik cengkih 1 liter mentah Rp 5.000," kata dia.

Jika petani ingin untung, maka harga harus ada di kisaran Rp 90.000.

Sempat Ditutup, Puskesmas Buko Kembali Beroperasi

Sayangnya pemerintah tidak menetapkan cengkih sebagai komoditas strategis meski pesebarannya ada 14 provinsi se Indonesia. Cengkih memberi kontribusi terhadap produk rokok

Halaman
123
Penulis: Ryo_Noor
Editor: David_Kusuma
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved