Kasus Novel Baswedan
Rocky Gerung Sindir Jaksa Fedrik Adhar Siram Air Keras ke Mata Publik: Novel Tak Peduli Lagi Matanya
Rocky Gerung ingin datang ke rumah Novel untuk mengetahui lebih jelas latar belakang hingga mata Novel tak bisa melihat.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Kasus Penyiraman Air Keras yang menimpa Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan menjadi sorotan publik.
Kasus penyiraman air keras menyita perhatian sejumlah tokoh setelah tuntutan jaksa kepada terdakwa.
Di mana, terdakwanya, yakni Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis dituntut hukuman 1 tahun penjara oleh jaksa dalam sidang tuntutan yang digelar, Kamis (11/06/20) lalu.
Sejumlah tokoh itu antara lain Pengamat Politik Rocky Gerung, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, dan Mantan Sekretaris BUMN Said Didu pada Minggu (14/6/2020).
Mereka merasa prihatin dengan tuntutan satu tahun penjara bagi pelaku penyiraman air keras pada Novel Baswedan 2017 silam.
Dilansir TribunWow.com dari channel YouTube tvOneNews pada Minggu (14/4/2020), Rocky Gerung ingin datang ke rumah Novel untuk mengetahui lebih jelas latar belakang hingga mata Novel tak bisa melihat.

Dalam kesempatan itu, Rocky menyebut Novel sendiri sudah tidak peduli matanya tak bisa melihat.
"Ya untuk melihat apa sebetulnya di belakang butanya mata Pak Novel Baswedan ini."
"Dan kita tahu Pak Novel saja sudah enggak peduli matanya buta, karena sudah bertahun-tahun," ujar Rocky.
Rocky menilai yang lebih penting dari tuntutan satu tahun yang dilayangkan jaksa (Fedrik Adhar) itu adalah hal ini bisa merusak keadilan di negara ini,
"Jadi yang bahaya saat ini bukan putusan tapi tuntutan jaksa itu adalah air keras baru buat mata publik, buat mata keadilan."
"Nah itu yang mau kita halangi, jangan sampai mata publik jadi buta karena tuntutan jaksa yang irasional," kata dia.

Pengamat Politik asal Manado ini mengatakan dirinya dan sejumlah tokoh yang datang itu berniat akan membuat gerakan agar jangan sampai hal yang dialami Novel kembali terjadi.
"Nah karena itu teman-temen undang saya ke sini, kita saling sepakat buat memulai satu gerakan untuk melindungi mata publik dari air keras kekuasaan," ucap dia.